Wednesday, December 18, 2013

MATERI KULIAH Metode Ilmiah Prof.Dr.Ir Sollahudin,MS

METODE ILMIAH

Pendahuluan
Research atau Riset adalah pemeriksaan atau pengujian yang teliti dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip; penyelidikan dengan tekun untuk memastikan sesuatu hal.  Sehingga dapat juga diambil kesimpulan bahwa Riset adalah usaha untuk menemukan (pengetahuan tentang) suatu hal menurut metode ilmiah.
           
Metode Ilmiah
Method yang biasanya ditulis methode, metode, metoda berasal dari kata Latin meta, yang berarti after (sesudah), dan hodos, yang berarti way (jalan).  Selanjutnya menjadi methodus atau dalam bahasa Gerik methodos, yang berarti investigation following after (penyelidikan berikut setelah), atau a way of doing anything (cara melakukan sesuatu), atau regular or orderly arrangement (biasa atau tertib pengaturan), yaitu suatu cara atau jalan pengaturan atau pemeriksaan sesuatu atau susunan yang teratur.
Dalam metafisika, istilah kata meta menunjukkan suatu wilayah yang masih gelap, masih belum dijangkau oleh pikiran manusia, sesuatu wilayah yang terbentang di hadapan manusia sesudah mereka sampai pada batas wilayah yang sudah dikenalnya (fisika).  Demikian juga dengan dunia ilmu, sesudah batas wilayah obyek formal ilmu, maka akan membentur dunia yan masih penuh tanda tanya, penuh masalah.  Metode adalah merupakan jalan atau cara untuk menguak wilayah ilmu yang masih gelap tersebut.
Ciri utama metode adalah sifat empiris, artinya keputusan-keputusan pikiran diambil berdasarkan data empiris, data pengalaman, data yang telah diperiksa kebenarannya, dan kemudian harus diperiksa kecocokan/kesesuaian antara keputusan pikiran dengan kenyataan.
Cara atau jalan untuk menemukan pengetahuan tentang suatu hal yang tidak berdasarkan mekanisme atau pola empiris, bukanlah metode ilmiah.
Cara-cara bukan ilmiah tersebut antara lain :
1.      Trial and error, mencoba untung-untungan, bila gagal mencoba lagi, cara kerja yang sembarangan, tidak mempunyai pola kerja tertentu dalam menghadapi situasi. Kegagalan hanyalah suatu kesialan saja.
2.      Berdasarkan authority and tradition (otoritas dan tradisi), menolak pendapat seseorang, meskipun masuk akal, dan menerima pendapat orang lainnya berdasarkan anggapan bahwa orang lain tersebut yang berwenang memberi fatwa, dianggap suci, luhur, atau sudah menjadi adat.
3.      Berdasarkan speculation and argumentation, seseorang berhasil dalam hal tertentu pada waktu tertentu, beranggapan bahwa ia akan berhasil dalam hal yang lain pada waktu yang lain. Bila pada waktu yang lain tersebut ia gagal, maka orang lainlah yang salah, karena tidak memahami dan menghargai keberhasilan yang terdahulu.
Menurut beberapa penulis yang lain, metode ilmiah dapat bermakna sebagai pola kerja, ada juga yang menjelaskan sebagai suatu proses.  Menurut Koentjaraningrat metode ilmiah dapat juga disebut sebagai pembangunan ilmu, yang selanjutnya dikatakan bahwa metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan. Tentang hubungan antara pengetahuan dan ilmu dilanjutkannya, bahwa tanpa metode ilmiah suatu pengetahuan itu sebenarnya bukanlah suatu ilmu, namun hanya merupakan suatu himpunan tentang berbagai gejala, tanpa dapat disadari hubungan antara gejala yang satu dengan yang lain.
Ndraha (1981) akhirnya mengemukakan uraian Copi, bahwa metode ilmiah dapat dipandang sebagai pemecahan masalah, sebagai berikut:
ü  Identifikasi masalah
ü  Hipotesis pendahuluan
ü  pengumpulan fakta-fakta tambahan
ü  Perumusan hipotesis
ü  Penjabaran lebih lanjut terhadap konsekuensi
ü  Pengujian terhadap konsekuensi
ü  Penerapan
Pengetahuan Ilmiah
Manusia adalah makhluk yang mempunyai sifat dasar ingin tahu. Terdapat berbagai cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang sesuatu hal. Pengetahuan yang benar hanya dapat ditemukan apabila dilakukan cara-cara berdasarkan aturan-aturan tertentu. Cara-cara berdasarkan aturan tertentu tersebut disebut ilmu. Sesuatu yang bersifat ilmu atau yang memungkinkan digunakannnya ilmu, disebut ilmiah.
Asal kata Ilmu dari bahasa Arab dan dalam bentuk jamak adalah Ulum, artinya mengetahui sesuatu dengan hakekat/yakin dan mengerti, atau mengetahui sesuatu dengan mendasar, atau sesuatu yang dapat mengungkapkan masalah secara jelas.  Dalam bahasa Inggris ilmu disebut science, yang berasal dari Latin scire, yang berarti to know, mengetahui.  Kemudian timbul kata sciens, lalu scientia, berarti pengetahuan yang diperoleh dari penelitian atau studi.
Kata Ilmu mengandung pengertian yang bermacam-macam tergantung pada konteks penggunaannya. Ilmu disebut juga ilmu pengetahuan atau sains. Ilmu mengandung arti ilmu pengetahuan secara umum, namun sains cenderung diartikan ilmu alamiah (natuaral science), walaupun dalam bahasa Inggris kata science diartikan ilmu secara umum (misalnya, social science, educational science, dan linguistic science). Sebaliknya dalam bahasa Inggris, scientist diartikan sebagai ahli ilmu alamiah, sedangkan ilmuwan sosial cenderung disebut scholar. Sebaliknya, kata scholarship (kesarjanaan atau bobot ilmiah) dalam bahasa Inggris mengacu ke sifat keilmiahan semua ilmuwan.
Selain itu ada pendapat yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah nama lain dari ilmu, yang satu dapat digunakan sebagai substitusi dari yang lainnya. Kedua kata tersebut di-rangkaikan menjadi ilmu pengetahuan, sekedar untuk mengintensifkan arti katanya. Pendapat tersebut dari suatu segi mengandung kebenaran, dengan alasan bahwa istilah ilmu disini harus dapat dibedakan dari ilmu dalam konteks ilmu ghaib, ilmu sihir, ilmu (ngelmu kejawen), dan sebagainya. Untuk membedakannya, ilmu yang diperoleh dari hasil penelitian atau studi disebut ilmu pengetahuan.
Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan merupakan satu kesatuan dalam kelompok bidang ilmu, yang dihasilkan melalui penelitian dengan menggunakan pengetahuan ilmiah.
Suatu pengetahuan disebut ilmiah apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
·         Obyektif, pengetahuan yang obyektif adalah pengetahuan yang seuai dengan kenyataan,
·         Luas, orang yang berpengetahuan sempit akan tertipu oleh suatu kesimpulan yang kemudian ternyata keliru apabila pengetahuannya diperluas,
·         Dalam, sehingga menyelesaikan masalah dengan mencari akar permasalahan,
·         Relatif, setiap pengertian adalah terbatas, terletak pada posisi tertentu dalam dunia pengetahuan, yang satu berkaitan erat dengan yang lain,
·         Dapat diabstraksikan, dapat dipisahkan dan ditarik dari berbagai pengetahuan yang luas dan dalam, sehingga lebih jelas bersifat kelompok pengetahuan tertentu. Kemampuan manusia adalah terbatas. Oleh karena itu harus berusaha mengefektifkan dan mengefisienkan penguasaan pengetahuannya.  Ciri khusus yang kurang atau tidak esensial, dianggap tidak ada, dan hanya ciri penting yang eseinsial ditandai dengan sebutan kelompok pengertian tertentu.
·         Dapat dikonkritisasi, agar pengertian abstrak dapat bermanfaat. Proses konkritisasi adalah kebalikan dari abstraksi. Konkritisasi antara lain dapat ditempuh dengan : (a) memberikan definisi tentang suatu pengertian, (b) menunjukkan sebanyak-banyaknya contoh pengertian yang ada, (c) memberikan teladan yang konsisten, dan aplicable.
·         Sistematis, susunan buah pikiran atau pengetahuan disebut sitematis jika letak setiap pengertian telah teratur dalam suatu sistem,
·         Terdisiplin, sistem memerlukan disiplin, menempatkan di bawah pengawasan, penertiban, pengaturan.  Sistem tanpa disiplin ibarat susunan batu tanpa semen. Disiplin menunjukkan beberapa hal : (a) setiap term, istilah, atau kata mempunyai atau diberi arti atau pengertian tertentu, (b) arti atau pengertian dari setiap term adalah terbatas, (c) ada aturan, ketentuan, atau tertib tertentu yang menjadikan hubungan antar pengetahuan serasi, teratur, dan tertib,
·         Berkembang
·         Metodis instrumental,
·         Mobil, memungkinkan pengertian digerakkan ke segala penjuru, seolah-olah berada dalam suatu sistem stereometris multidimensional,
·         Terbuka, dapat dipelajari oleh siapa saja sesuai kemampuan dan kebutuhan, tanpa kerahasiaan dan pemalsuan, terbuka bagi saran dan kritik.

Sikap Ilmiah
Setiap orang pada saat dan tempat tertentu akan berada dalam suatu situasi. Jika orang tersebut merasa sebagai bagian dari situasi itu, maka orang itu disebut mengalaminya. Orang disebut sebagai bagian dari situasi tersebut apabila orang itu langsung atau tidak langsung mempengaruhi atau dipengaruhi oleh situasi yang bersangkutan.
Seseorang yang mampu melihat adanya hubungan antara dirinya dengan situasi tempat orang itu berada, dan dengan situasi di luar dirinya, maka orang itu disebut menyadari sesuatu hal atau obyek. Dari hubungan itu orang tersebut melihat sesuatu secara jelas dan terang, akan tetapi barangkali terdapat bagian-bagian atau unsur-unsur dari situasi yang bersangkutan masih kabur, membingungkan, gelap, tidak jelas. Dengan adanya jaur-jalur yang gelap tersebut, situasi seakan-akan terpecah-pecah, belum dapat dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, menyeluruh. Situasi yang demikian ini dijadikan sebagai obyek penelitian/ penyelidikan. Penelitian tidak hanya meliputi usaha manusia untuk menjelajahi hal-hal yang berada di luar dirinya, melainkan juga meliputi proses pemikiran yang berlangsung di dalam otak.
Bila seseorang menyadari sesuatu hal, berarti ia dapat membedakan hal itu dari hal-hal lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Kemampuan membedakan dan menyoroti sesuatu di antara sekian banyak obyek, disebut sense of discrimination. Semakin tajam dan peka kemampuan seseorang dalam membedakan sekian banyak obyek, maka akan semakin terang suatu situasi atau perbedaannya dengan situasi yang lain.
Ada orang yang beranggapan bahwa hal-hal yang dialami dan disadari hanyalah semu belaka, sehingga tidak diperhatikan, dan dibiarkan berlalu begitu saja.  Namun ada juga orang yang berpendapat bahwa hal-hal yang dialami dan disadari itu sungguh-sungguh nyata ada, orang yang berpendapat demikian dibagi menjadi dua golongan :
Ø  Golongan yang berpendapat bahwa segala situasi adalah wajar, biasa, sesuatu yang sudah semestinya ada.
Ø  Golongan yang tidak menerima begitu saja, melainkan memandang hal-hal itu sebagai sesuatu yang menimbulkan pertanyaan dan memerlukan jawaban.
Golongan kedua inilah yang lazim disebut sebagai memiliki sikap ilmiah, scientific attitude.  Sikap ilmiah ialah sikap yang memungkinkan seseorang berfikir dan bertindak secara ilmiah yang didasarkan pada pengalaman.
Sikap ilmiah meliputi beberapa sikap :
  • Sikap positip, sikap untuk tetap berperan dalam setiap situasi, sekalipun situasi yang seburuk-buruknya, walaupun peranan yang diberikan sangat kecil. Suatu situasi yang terbatas bagi seseorang, sesungguhnya merupakan suatu yang lebih luas berada dalam situasi yang lain. Yang bersangkutan akan berperan di dalam suatu situasi, jika memiliki pegangan/dasar tertentu.
  • Sikap bertanya, menjadikan orang untuk tidak membiarkan sesuatu berlalu tanpa diperhatikan terlebih dahulu, barangkali terdapat bagian atau unsur yang perlu dicermati. Sikap bertanya dapat dikembangkan atau berkembang berdasarkan sikap dasar manusia, yaitu ingin tahu. Sosiologi riset merupakan suatu jalur kajian yang mempelajari hubungan antara perkembangan ilmu pengetahuan atau riset dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Sebagai contoh adalah mempelajari : kendala-kendala yang dihadapi seseorang untuk menemukan fakta-fakta di dalam masyarakat, atau kendala-kendala mengakomodasi rekomendasi ilmiah ke dalam keputusan kebijakan.
  • Sikap sangsi, menjadikan seseorang tidak begitu saja menerima sesuatu jawaban terhadap suatu pertanyaan yang timbul dari keingintahuan manusia, jika tanpa diperiksa terlebih dahulu kebenaran jawaban tersebut. Bahkan terhadap kebenaran aksiomatis, sebagai contoh bahwa dua garis sejajar tidak akan pernah saling berpotongan, ia juga masih merasa ragu-ragu.
  • Sikap sangsi ini mendorong manusia untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan, dan menguji kebenaran dari setiap detil atau bukti yang ada. Sikap sangsi seperti itulah yang melahirkan faham skeptisisme.
Skeptisisme
Skeptisisme berarti faham yang mengandung pertimbangan atau pemikiran. Terdapat dua macam skeptisisme, yakni:
  • Skeptisisme negatif, faham ini berpendapat bahwa manusia tidak akan pernah sampai pada suatu kebenaran, baik disebabkan oleh sifat hakekat obyek yang tidak menampakkan diri secara utuh/seluruhnya, maupun oleh pengenalan manusia yang sangat terbatas.
  • Skeptisisme positif (kritis, me), faham ini berpendapat bahwa kesangsian terhadap sesuatu hal justru mendorong manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran yang sesungguhnya.
Sikap kritis adalah ciri pokok dari skeptisisme, terutama skeptisisme positif. Orang yang bersikap kritis adalah orang yang cakap menunjukkan batas-batas suatu masalah, mampu membuat problemstelling, mampu menunjukkan perbedaan dan kesamaan suatu hal dibanding dengan yang lain, dan cakap menempatkan suatu pengertian dalam kedudukannya yang tepat terhadap yang lain.
Mengapa skeptis?.- Misal rel kereta api (Bertrand Russell). Tampaknya (appearance) semakin jauh semakin rapat, bahkan seakan-akan bertemu ujungnya. Tetapi orang tidak percaya terhadap appearance itu, sebab orang mengetahui bahwa jarak antara kedua rel tetap sama. Jadi kenampakan (appearance) belum tentu sesuai dengan kenyataan (reality) yang sesungguhnya.  Orang beruntung, karena mengetahui bahwa kedua rel tersebut sesungguhnya berjarak sama, dan tidak bertemu di ujung, berdasarkan pengujian dari pengalaman, pengukuran dan sebagainya. Akan tetapi bagaimana halnya dengan kasus lain yang realitasnya tidak dikenal atau tidak dapat diteliti, diukur, dan orang hanya mengenal appearance itu? Yang pasti adalah bahwa realitas dapat atau bahkan sama sekali berbeda dengan appearancenya. Oleh karena itu common sense yang memungkinkan orang melihat appearance perlu dikaji secara kritis. Inilah yang menjadi sumber skeptisisme.
Informasi-informasi yang oleh alat-alat indera disampaikan ke otak dapat berbeda-beda, sesuai dengan kondisi dan situasi subyek dan obyek, serta metode pengenalan dan sifat hubungan antara subyek dan obyek. Demikian pula, kenampakan suatu obyek dapat berbeda-beda menurut segi pandang atau sudut pandang subyek dalam memandang obyek dan alat yang digunakan untuk memandang (kaca mata pandang). Bagaimanakah cara agar orang dapat menemukan suatu pengetahuan yang benar dari appearance yang mungkin sama sekali berbeda dengan realitasnya?, dan mungkinkah orang menemukan pengetahuan yang benar? Jawaban itu semua adalah memungkinkan asal dalam rangka pencariannya dipenuhi syarat-syarat keilmiahan.

Berfikir Ilmiah
Berfikir adalah proses mengenal sesuatu. Alat untuk berfikir adalah pengertian. Hasil proses pengenalan disebut pengetahuan, yaitu faham atau tanggapan atau pengertian subyek pemikir terhadap obyek difikirnya. Berfikir ilmiah ialah berfikir yang memenuhi persyaratan keilmiahan.
Terdapat dua metode atau teknik dasar berfikir ilmiah :
  1. Berfikir reflektif, yaitu suatu proses merubah suatu situasi yang gelap menjadi terang dan tertentu. Untuk itu diperlukan suatu proses peloncatan atau proses penerangan dari dunia yang sudah dikenal ke dunia yang belum diketahui. Setiap obyek akan menyatakan diri melalui gejala-gejala atau fenomena.  Gejala-gejala itu terpancar dan memantul pada permukaan indera manusia. Informasi tentang fenomena ini disampaikan ke otak, kemudian ditanggap oleh fikiran.
  2. Berfikir Kreatif.- Otak menangkap gejala-gejala yang disebut pengertian. Semakin tinggi teknologi, semakin besar daya olah sumber daya yang ada; semakin efektif pengertian, semakin banyak gejala yang dapat ditanggapi. Gejala-gejala dapat ditanggapi secara kurang sempurna, apabila alat-alat yang dipakai untuk menanggapi tidak sempurna, akibatnya keputusan fikiran dapat keliru.

Hipotesis
Hipotesis berarti suatu pernyataan yang kedudukannya belum sekuat suatu proposisi atau dalil, yaitu masih berupa subposition.
Berdasarkan pengertian metode ilmiah, setiap penelitian terhadap suatu obyek harus di bawah tuntunan suatu hipotesis yang berfungsi sebagai pegangan sementara atau jawaban sementara yang masih diuji kebenarannya di dalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) atau praktik (implementation).
Fungsi hipotesis, setiap hipotesis memegang salah satu dari beberapa fungsi:
v  Sebagai jawaban sementara yang masih perlu diuji kebenarannya,
v  Petunjuk ke arah penyelidikan lebih lanjut,
v  Sebagai working hypothesis, atau hipotesis kerja,
v  Suatu prakiraan atau dugaan tentang sesuatu yang bakal datang atau yang akan ditemukan,
v  Sebagai konsep yang berkembang,
v  Sebagai bahan untuk membangun suatu teori.

Jenis-jenis hipotesis :
à        Preliminary hypothesis, ialah hipotesis pendahuluan atau sementara, yang belum atau sedang diuji kebenarannya.
à        Hipotesis, yaitu hipotesis pada umumnya atau Preliminary hypothesis yang telah diterima sebagai hipotesis, ternyata benar.
à        Hipotesis penelitian, ialah hipotesis yang berfungsi sebagai penuntun dalam melakukan penelitian.
à        Hipotesis kerja, yaitu hipotesis yang menuntun pelaksanaan rekomendasi yang disusun berdasarkan penelitian ilmiah. Setiap cara, program, rekomendasi, dan sebagainya yang dimaksudkan untuk mencegah terulangnya suatu kejadian yang bermasalah, atau untuk memperbaikinya, pada hakekatnya adalah hipotesis juga.
à        Asumsi atau anggapan. Hipotesis yang disusun berdasarkan asumsi-asumsi. Asumsi-asumsi tersebut juga merupakan hipotesis. Oleh karena itu jika asumsi meleset, maka hipotesis juga meleset.
à        Hipotesis nol, dan hipotesis alternatif.

Syarat-syarat hipotesis yang baik  (menurut Copi dalam Ndraha, 1981) :
·         Relevance,  .... be relevant to the fact which it is intended to explain, that is, the fact in question must be deducible from the proposed hypothesis ....
(Relevansi, .... relevan dengan fakta yang dimaksudkan untuk menjelaskan, yaitu, kenyataan tersebut harus deducible dari hipotesis yang diajukan ....)
·         Testability, artinya .... there must be the possibility of making observations which tend to confirm or disprove any scientific hypothesis.
(harus ada kemungkinan untuk membuat pengamatan yang cenderung untuk mengkonfirmasi atau menyangkal hipotesis ilmiah apapun)
·         Compatibility, artinya hipotesis yang baru harus konsisten dengan hipotesis yang di lapangan yang sama dan telah teruji kebenarannya, sehingga hipotesis demi hipotesis membangun suatu sistem: Science, in seeking to encompass more and more facts, aims at achieving system of explanatory hypothesis. (Ilmu pengetahuan, untuk mencari sebanyak-banyaknya fakta pendukung, yang bertujuan untuk mencapai kejelasan hipotesis.
·         Predictive or Explanatory Power, artinya hipotesis yang baik mempunyai kemampuan untuk memprakirakan tentang yang akan terjadi atau akan diketemukan : .... is meant the range of observable facts that can be deduced from it (dimaksudkan kisaran fakta diamati yang dapat disimpulkan dari itu)
·         Simplicity, sederhana atau yang lebih sederhana.

Kebenaran Ilmiah
Manfaat utama dari pengujian hipotesis adalah untuk mencapai kebenaran ilmiah. Istilah kebenaran berasal dari akar kata benar, salah satu diantara norma dasar yang diajarkan oleh Filsafat. Dalam arti umum kebenaran adalah relatif. Dalam bahasa asing disebut Scientific Truth. Harus dapat dibedakan dari arti kebenaran menurut kepercayaan spiritual atau ajaran-ajaran agama. Di lingkungan keagamaan, orang harus percaya dulu baru berfikir. Sebaliknya dalam lingkungan ilmiah, berfikir dulu baru percaya.  Kebenaran ilmiah harus memiliki beberapa kriteria, antara lain :
ü  Sesuai dengan fakta.- Suatu dalil atau ucapan disebut benar, kalau dalil atau ucapan itu sesuai dengan fakta atau realitas.
ü  Sesuai dengan ketentuan.
ü  Obyektif.- Sesuatu disebut benar jika sesuatu itu obyektif. Dalam hal ini obyektif berarti lepas dari subyektivitas atau kesadaran.  Misalnya seseorang yang belum pernah ke Mekah ditanya, dimanakan terletak kota Mekah?, Jawaban :di Arab Saudi, adalah benar, walaupun ia sendiri belum pernah melihatnya. Ini dapat disebut scientific belief.
ü  Sesuai Bukti Akal.- Ada banyak hal yang tidak dapat atau tidak mampu dibuktikan sebenarnya secara empiris, misal adanya Tuhan. Bukti akal memberi keyakinan bahwa Tuhan itu benar-benar ada, karena kalau tidak, dari mana asal mula segala ini ?.
Kesulitan-kesulitan.- Jawaban atas pertanyaan, bagaimana rasanya dipukul, sukar sekali diberikan. Hal itu dapat diungkapkan dengan berbagai cara dan alat. Selanjutnya dapat muncul pernyataan yang berantai terus-menerus, misal: bila dipukul terasa sakit, sehingga timbul pertanyaan: Bagaimana rasanya sakit?  Jawaban yang tepat dan benar adalah memukul si penanya, agar ia merasakan sendiri dipukul dan sakit. Akan tetapi hal ini juga sulit dilakukan tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Obyek
Obyek adalah sesuatu yang dengan cara tertentu dapat dikenali oleh subyek pemikir, baik sebagai suatu konsep atau pengertian yang dibentuk sendiri oleh subyek dalam fikirannya.
Obyek riset.- adalah barang atau sasaran yang hendak diteliti oleh peneliti. Obyek riset sangat erat hubungannya dengan hipotesis yang telah ditetapkan, dikaitkan dengan unsur-unsur kejadian. Dalam hal membuktikan bahwa keluarga petani di suatu daerah rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Yang menjadi responden adalah keluarga petani, dan menjadi obyek penelitian. Obyek harus dapat dibedakan dengan lokasi. Lokasi ialah tempat / wilayah / daerah obyek berada.
Realitas dan fenomena.- Realitas adalah suatu benda atau hal; fenomena adalah muncul menampakkan diri.
Pemeriksaan realitas terhadap obyek penelitian dapat dilakukan secara : (a) Langsung, dengan jalan melakukan pengukuran, sebagai contoh untuk membuktikan bahwa rel kereta api sejajar tidak pernah memotong. Obyek tersebut dapat dilihat, diukur, dan diraba, sedangkan jika obyek tidak demikian, maka secara (b) Tidak langsung: (i) melalui perhitungan-perhitungan logis; dengan perhitungan dan prinsip logika bahwa karena jarak antara roda-roda lokomotif dan gerbongnya tetap, dan roda-roda berjalan di atas rel, jarak antara kedua rel pasti sama, jika jarak tidak sama, maka roda-roda keluar rel; (ii) melalui appearance, yang diduga dapat menunjukkan realitas. Appearance inilah yang disebut sebagai gejala atau fenomena.
Oleh karena realitas tidak dapat langsung diketahui, maka yang dianggap sebagai obyek riset adalah gejala-gejala yang nampak, fakta-fakta, berarti sesuatu yang telah terjadi atau berlaku.
Realitas dan kenyataan.- Di dalam bahasa Indonesia, kenyataan mengandung dua arti : Sebagai terjemahan dari reality,
Sebagai terjemahan dari fenomena, sama dengan gejala. Gejala-gejala seperti cahaya, tenaga, rasa tersentak, jika karena alirannya adalah gejala-gejala elektrisitas yang juga sekaligus sebagai kenyataannya.
Hakekat dan penjelmaan.- Hakekat adalah inti yang terdalam, essence. Di kalangan Filosof hakekat disebut dengan berbagai istilah antara lain : prima causa, dasar, awal, asal, sumber, intisari, prinsip, yang ter ... . Hakekat menyatakan diri melalui penjelmaan-penjelmaan tertentu. Penjelmaan itulah yang dipandang sebagai obyek riset.

HAKEKAT PENELITIAN
Kegiatan yang dapat diwadahi dengan istilah penelitian sangat beragam. Kegiatan tersebut dapat mencakup kajian tentang bentuk dan isi kepustakaan; pengecekan keaslian suatu dokumen, baik historis, administratif, maupun akademis; penyusunan dan pengembangan rumus matematis; pengembangan model atau prototipe karya teknologi; penyusunan dan pengembangan teori; dan yang amat lazim adalah pengunpulan dan analisis data survei atau eksperimen. Istilah penelitian sekarang mengandung pengertian yang luas dan kompleks, yang sulit difahami maknanya dengan baik, tanpa mengacu kepada individu yang melaksanakannyaatau konteks yang mendasari pelaksanaan penelitian itu. Anggapan bahwa penelitian itu hanyalah kegiatan seperti survei, eksperimen, atau studi kasus, adalah pandangan yang sempit.
Dari berbagai keanekaan wujud macam penelitian tersebut mengandung kesamaan pokok, yaitu bahwa kegiatan penelitian terkait dengan akumulasi pengetahuan, baik langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan dapat bersifat teoritis, praktir, ilmiah, non ilmiah. Untuk memperjelas hakekat penelitian, maka perlu dibahas kaitan pengetahuan dengan ilmu, dan antara ilmu dengan penelitian.
        
Pengetahuan dan Ilmu
Kata pengetahuan (knowledge) berasal dari kata tahu (know, learn, perceive, see, understand, comprehend). Kegiatan tahu atau mengetahui itu melibatkan indera, syaraf, dan otak. Produk dari kegiatan ini adalah pengetahuan, yang dapat berbentuk gagasan atau ide, cara-cara berfikir, informasi dan data.
Pengetahuan diperoleh dari berbagai sumber yaitu pengalaman, orang yang berkewenangan, berpikir deduktif, berfikir induktif, dan pendekatan ilmiah. Sumber pengetahuan pertama dan yang paling produktif adalah pengalaman; dengan pengalaman dapat menemukan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang ada di benak kita. Pengalaman memiliki keterbatasan, antara lain tergantung pada sifat dan kondisi subyek yang memperoleh pengalaman itu sendiri (kondisi fisik subyek dan kemampuan untuk mengindera yang dihayati).
Orang yang memiliki keahlian dalam satu bidang juga dapat menjadi sumber pengalaman. Namun hal ini tidak menambah akumulasi pengetahuan, melainkan berfungsi sebagai pengumpul dan penyimpan pengetahuan. Cara lain untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan berfikir induktif dan deduktif secara terpisah atau sistematik mengikuti prosedur tertentu. Penggabuangan dua pendekatan berfikir tersebut, yaitu deduktif dan induktif dapat menghasilkan pengetahuan yang akurat dan shahih. Oleh karena itu cara ini disebut dengan pendekatan ilmiah.
Ilmu adalah sekumpulan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis mengenai alam semesta. Kumpulan pengetahuan itu terakumulasi bertahun-tahun dan bahkan mungkin dari satu generasi ke generasi berikutnya yang mengalami penambahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia, istilah ilmu (science) disebut juga ilmu pengetahuan.

DASAR PENGETAHUAN

Binatang memiliki pengetahuan, namun hanya terbatas untuk mempertahankan jenisnya.
Manusia mampu menalar, artinya berfikir secara logis dan anaitis. Karena berkemampuan menalar dan berbahasa untuk mengkomunikasikan hasil pemikiran yang abstrak, maka manusia selain memiliki pengetahuan, juga mampu mengembangkannya. Pengetahuan diperoleh manusia tidak hanya dengan penalaran, melainkan juga dengan kegiatan berfikir lainnya, dengan perasaan dan intuisi. Pengetahuan dapat juga diperoleh lewat wahyu (untuk para Nabi) atau inspirasi.
Induksi dan deduksi merupakan inti penalaran logika-empiris. Kegiatan berfikir ilmiah menggunakan teori koherensi dan juga teori korespondensi dalam menetapkan kebenaran hasilnya.
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Manusia mengetahui sesuatu yang benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek, serta secara terus menerus dipaksa harus mengambil pilihan jalan yang benar atau salah, tindakan yang baik atau buruk, sesuatu yang indah atau jelek. Dalam menentukan pilihan tersebut, manusia merujuk kepada ilmu pengetahuan.
Binatang juga mempunyai pengetahuan, akan tetapi terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Sedangkan manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Mereka tidak hanya sekedar mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup, namun juga memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru. Manusia mengembangkan kebudayaan, memberi makna kepada kehidupannya, memanusiakan diri dalam hidupnya dan sebagainya. Semua itu pada hakekatnya menyimpulkan bahwa dalam hidupnya, manusia mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi daripada hanya sekedar kelangsungan hidup. Pengembangan pengetahuan tersebut mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Manusia dapat mengembangkan pengetahuan disebabkan oleh dua hal utama, yakni: pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan fikiran yang melatar belakangi informasi tersebut; kedua, kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu, sehingga manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap. Secara garis besar kemampuan berfikir seperti itu disebut penalaran. Binatang juga mampu berfikir, namun tak mampu berfikir nalar.


Pustaka :
Ndraha, Taliziduhu. 1981. RESEARCH. Teori, metodolagi, administrasi. PT. Bina Aksara Jakarta.


Nuril Huda, 2000. Penelitian dan Publikasi Ilmiah. Dalam Menulis Artikel Untuk Jurnal Ilmiah (Editor: Ali Saukah dan Guntur Waseso). Universitas Negeri Malang Press. hal.: 1-13.

MAKALAH AGROINDUSTRI Kakao (Theobroma cacao L.) di Indonesia

Oleh : Adib Fauzan H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
BAB I
PENDAHULUAN

A. Kakao di Indonesia

   Theobroma cacao adalah nama biologi yang diberikan pada pohon kakao oleh Linnaeus pada tahun 1753. Menurut Sillane (1995) tempat alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian hutan tropis dengan banyak curah hujan, tingkat kelembaban tinggi, dan teduh. Dalam kondisi seperti ini Theobroma cacao jarang berbuah dan hanya sedikit menghasilkan biji.
Penaung kakao sangat diperlukan dalam mengatur intensitas penyinaran sinar matahari, tinggi suhu, kelembaban udara, menahan angin, menambah unsur hara dan organik, menekan tumbuhan gulma, dan memperbaiki struktur tanah. Susanto (1994) menyatakan bahwa intensitas sinar matahari untuk tanaman muda yang berumur 12 - 18 bulan sekitar 30 – 60 %. Sedangkan untuk tanaman yang sudah produktif intensitas penyinaran adalah 50 – 75 % .
Kakao merupakan satu-satunya di antara 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Menurut Tjitrosoepomo (1988) sistematika tanaman ini sebagai berikut :
Klasifikasi botani tanaman kakao adalah sebagai berikut:
Divisio       : Spermatophyta
Sub dvisi   : Angioospermae
Class          : Dicotyledonae
Sub class   : Dialypetalae
Ordo          : Malvales
Familia      : Stercukiceae
Genus        : Theobroma
Spesies      : Theobroma cacao L.
      Poedjiwidodo (1996) berpendapat kakao dibawa oleh orang Spanyol ke Indonesia sekitar tahun 1560 melalui Filipina ke daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Di daerah itu kakao ditanam sebagai tanaman campuran di pekarangan, dan baru dikembangkan secara luas pada tahun 1820. Pada tahun 1845 tanaman ini terserang penggerek buah kakao (PBK) dan karena ditanam tanpa naungan maka umur tanaman hanya mencapai 12 tahun.
      Data dari International Cocoa Organization menunjukan bahwa Indonesia adalah penghasil kakao nomer 3 di dunia dengan angka 480.000 ton/tahun pada tahun 2011/2012. Permasalahan kakao di Indonesia sebagian besar terletak pada teknologi pasca panen yaitu mutu yang rendah yang di akibatkan proses fermentasi kurang tuntas, biji tidak cukup kering, kadar kulit yang tinggi serta kadar keasaman yang tinggi. Teknologi pasca panen yang benar dan sesuai prosedur diharapkan mampu meningkatkan mutu kakao yang diproses dari industry kakao di Indonesia.

B. Jenis Kakao di Indonesia

Sesungguhnya terdapat banyak jenis tanaman cokelat, namun jenis yang paling banyak ditanam untuk produksi cokelat secara besar-besaran hanya 3 jenis
yaitu:
1.   Jenis Criollo
Terdiri dari Criollo Amerika Tengah dan Criolla Amerika Selatan. Jenis ini menghasilkan biji cokelat yang mutunya sangat baik dan dikenal sebagai : cokelat mulia, fine flavour cocoa, choiced cocoa, edel cocoa. Buah berwarna merah hijau, kulit buahnya tipis berbintil-bintil kasar dan lunak. Biji buahnya berbentuk bulat telur dan berukuran besar dengan kotiledon berwarna putih pada waktu basah, Jenis cokelat ini terutama untuk blending atau banyak dibutuhkan oleh pabrik-pabrik untuk pembutan produk-produk cokelat yang bermutu tinggi. Negara-negara penghasil cokelat ini adalah : Venezuela, Equador, Trinidad, Grenada, Srilangka, Indonesia, Samoea, Jamanica, Suriname dan sebagian kecil West Indian.
2.   Jenis Forastero
Banyak diusahakan diberbagai negara produsen cokelat dan menghasilkan biji cokelat yang mutunya sedang atau bulk cocoa, atau dikenal juga sebagai ornidary cocoa Jenis cokelat ini berasal dari Bahai (Brazil), Amelando (Afrika Barat), dan cokelat dari Ecuador. Buahnya berwarna hijau, kulitnya tebal. Biji buahnya tipis atau gepeng dan kotiledon berwarna ungu pada waktu basah.
3.   Jenis Trinitarion
Merupakan campuran atau hybrida dari jenis Criollo dengan jensi Fotastero secara alami, sehingga cokelat jenis ini sangat heterogen. Cokelate Trinitario menghasilkan biji yang termasuk fine flavour cocoa dan ada yang termasuk bulk cocoa. Buahnya berwarna hijau atau merah dan bentuknya bermacam-macam. Biji buahnya juga bermacam-macam dengan kotiledon berwarna ungu muda sampai ungu tua pada waktu basah.
Wood (1987) menyatakan bahwa varietas dari hasil persilangan secara alamiah Criollo dan Trinitario dijumpai di Jawa, Sumatera, Suriname, Costa Rica, Panama, Venezuela, Timur, dan Granada. Dari tipe Trinitario inilah maka dikembangkan sebagai klon, sehingga lahirlah klon-klon DR ( Djati Runggo). Dengan penemuan klon-klon DR ini, maka perkebunan di Jawa Tengah kini berkembang sampai ke Jawa Timur, Sumatera dan daerah lainnya.
Hudayah (1985) menyatakan jenis Criello dan Trinitario serta persilangan keduanya dikenal sebagai penghasil kakao mulia (fine cacao). Pada biji kakao jenis ini tidak ditemukan pigmen ungu, setelah difermentasi dan dikeringkan, biji berwarna cokelat muda, dan bila disangrai memberi aroma yang kuat. Jenis Forastero dikenal sebagai penghasil biji kakao lindak (bulk cacao) atau kakao curah. Biji buah segar berwarna ungu, setelah mengalami proses fermentasi dan pengeringan biji berwarna cokelat tua dan bila disangrai aromanya kurang kuat bila dibandingkan dengan kakao mulia

BAB II
PENGOLAHAN PASCA PANEN KAKAO

A. Panen
Untuk menanam cokelat digunakan pisau tajam. Bila buah tinggi maka pisau disambungkan dengan bambu. Pisau berbentuk L, dengan bagian tengah agak melengkung. Selama memanen buah cokelat harus diusahakan untuk tidak melukai batang/cabang yang ditumbuhi buah. Pelukaan akan mengakibatkan bunga tidak akan tumbuh lagi pada tempat tersebut untuk periode berikutnya.
Pemanen buah cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan memotong buah tepat dibatang/cabang yang ditumbuhi buah. Dengan demikian tangkai buah pun tidak akan tersisa di batang/cabang sehingga tidak menghalangi pembugaan pada period berikutnya.

B. Pemecahan Buah

Pemecahan atau pembelahan buh kakao harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai melukai atau merusak biji kakao.
Caranya :
1.      Buah dipecah dengan menggunakan parang pemukul kayu atau memukulkan buah satu sama lain
2.      Biji kakao dikeluarkan, sedangkan empulur yang melekat pada biji dibuang
3.      Biji kakao yang sudah dikeluarkan dimasukkan ke dalam ember plastik atau tempat lain yang bersih
4.      Harus dihindarkan kontak biji kakao dengan benda-bendalogam karena dapat menyebabkan warna kakao menjadi kelabu.

C. Fermentasi

Tujuan fermentasi adalah :
1. Mematikan lembaga
2. Menghancurkan pulp
3. Menimbulkan aroma (membentuk calon aroma)
4. Memperbaiki warna biji
Tujuan utama fermentasi adalah untuk mematikan biji sehingga perubahan-perubahan didalam biji akan mudah terjadi, seperti miasalnya warna keeping biji, peningkatan aroma dan rasa, serta perbaikan konsistensi keeping biji. Tujuan lainnya adalah untuk melepaskan pulp. Selama fermentasi biji beserta pulpnya mengalami penurunan berat sampai 25 persen. Perubahan-perubahan biji selama fermentasi meliputi peragian gula menjadi alcohol, fermentasi asam cuka, dan menaiknya suhu. Disamping itu aroma pun meningkat selama proses fermentasi dan pH biji mengalami perubahan.
Menurut Siregar, (1964), dua perubahan besar terjadi selama proses fermentasi. Pertama adalah berubahnya gula yang terdapat pada daging buah menjadi alkohol dan CO2 oleh ragi (Saccharomyces cerevisiae dan Saccharomyces theobromae), yang kedua adalah alkohol tersebut diubah menjadi asam asetat oleh bakteri Azetobacter sp. Panas dan asam yang timbul oleh aktivitas
mikroorganisme akan memecah sel-sel pulp menjadi cair .Biji cokelat difermentasikan didalam kotak berlubang. Cara-cara tradisional seperti yang dilakukan di Afrika Barat, yaitu dengan membungkus biji menggunakan daun pisang, selain membutuhkan waktu lama juga kurang dapat merangsang terbentuknya aroma. Kotak fermentasi yang terlalu dalam akan menyebabkan proses fermentasi hanya terjadi pada bagian tengah saja. Kotak fermentasi sebaiknya dibuat dengan ukuran 1,83 m x 0,91 m dengan kedalaman 0,15 m. Biji dibalikan setiap 48 jam, selama fermentasi berlangsung.
Proses fermentasi biasanya berlansung 4-6 hari. Pada tiap bak fermentasi sejak hari pertama biji-biji cokelat masing-masing disimpan selama 12 jam, 24 jam, 24 jam dan 24 jam, dan seterusnya. Untuk kemudahannya kotak fermentasi disusun sedemikian rupa sehingga setiap hari biji dapat dimasukkan kedalam kotak pertama (hari pertama fermentasi) dan yang telah selesai mengalami fermentasi dapat diolah pada tahap berikutnya.

D. Pengeringan Biji Kakao

Tujuan pengeringan adalah menurunkan kandungan air biji basah dari sekitar ± 60% menjadi ± 7,5%. Pengeringan biji kakao ada 3 cara yaitu dengan penjemuran pada sinar matahari, memakai alat pengeringan dan kombinasi keduanya.
Penjemuran dengan sinar matahari
1.         Biji kakao dijemur di atas balai bambu dengan ketinggian ± 1 m dari tanah atau di atas alas tikar/sesek bambu.
2.         Tebal lapisan/komponen biji ± 3 cm
3.         Biji kakao dibalik setiap 1-2 jam sekali supaya pengeringan merata.
4.         Lama penjemuran tergantung keadaan cuaca dan tebalnya hamparan biji, biasanya berlangsung 7-10 hari.
Susanto (1994) menyatakan pengeringan langsung dapat dilakukan dengan alat pengering buatan yaitu oven dengan temperatur awal 35 - 45o C selama 24 jam dan sisanya dilakukan selama 24 jam dilakukan dengan menaikkan suhu menjadi 46 - 50o C sampai kadar air 6 – 7 %.

E. Sortasi

1.      Sortasi biji kakao kering dimasukkan untuk memisahkan antara biji baik dan cacat yang berupa : biji pecah, kotoran atau benda asing lainnya (batu, kulit dan daun-daunan)
2.      Sortasi dilakukan setelah 1-2 hari dikeringkan agar kadar air seimbang, sehingga biji tidak terlalu rapuh dan tidak mudah rusak
3. Sortasi dilakukan dengan ayakan yang dapat memisahkan biji kakao dari kotoran-kotoran
Menurut Nasution, et al (1985), buah yang telah dipanen lalu dikumpulkan
dan dilakukan sortasi. Adapun sortasi itu dibedakan atas dua tingkatan yakni:
a. Sortasi kebun pertama : pemisahan buah dengan kematangan yang seragam
dan sehat.
b. Sortasi kebun kedua : pemisahan buah yang terkena serangan penyakit, buah busuk, kurang masak, terkupas dan tercampur kotoran.

F. Pengemasan dan Penyimpanan biji

1.    Biji kakao dikemas dengan baik di dalam wadah bersih dan kuat, biasanya menggunakan karung goni dan tidak dianjurkan menggunakan karung plastic
2.    Biji kakao jangan disimpan dengan produk pertanian lainnya yang berbau keras, karena biji kakao dapat menyerap bau-bauan tersebut
3.    Biji kakao jangan disimpan di atas para-para dapur, karena dapat mengakibatkan biji kakao berbau asap
4.    Biji kakao disimpan dalam ruangan, dengan kelembaban tidak melebihi 75%, ventilasi cukup dan bersih
5.    Antara lantai dan alas wadah diberi jarak ± 8 cm dan dari dinding ± 60 cm
6.    Biji kakao dapat disimpan ± 3 bulan.
                                                                          

BAB III
KESIMPULAN

          Penerapan prosedur pengolahan pasca panen dengan baik dan benar diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah kakao yang ada di Indonesia. Masalah kakao di Indonesia berkaitan dengan mutu kakao yang dihasilkan karena proses fermentasi kurang tuntas, biji tidak cukup kering, kadar kulit yang tinggi serta kadar keasaman yang tinggi. Sinergisitas antara industry, pemerintah dan akademisi juga perlu dilakukan agar dapat menunjang mutu kakao di Indonesia dan pemasarannya.


DAFTAR PUSTAKA
Mulato, Sri. 2007. Desain Teknologi Pengolahan Pasta, Lemak, dan Bubuk Cokelat Utuk Kelompok Tani. Bogor:Pusan Penlitian Kopi dan Kakao
Sinaga, Roida. 2006. Pengaruh Lama Fermentasi dan Konsentrasi Kalium Karbonat,Terhadap Mutu Bubuk kakao.  Sumatera Utara:Universitas Sumatra Utara.    
Standar Nasional Indonesia. 2009. Bungkil kakao. Jakarta: Badan Standarisasi Nasonal.


MAKALAH AGROFUEL Ganggang Sebagai Bahan Bakar Alternatif Potensial yang Ramah Lingkungan

Oleh : Adib Fauzan H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
A. Pendahuluan
Biodiesel telah menarik perhatian sebagai bahan bakar yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan karena cadangan minyak dari bahan baku fosil berkurang serta konsekuensi lingkungan yang rusak akibat gas buang dari bahan bakar solar. Janaun (2010) menyatakan biodiesel (lemak ester alkil asam) adalah diesel alternatif yang berasal dari reaksi minyak nabati atau lipid dan alkohol dengan atau tanpa kehadiran katalis. Konversi kimia dari minyak ester lemak menjadi biodisel disebut transesterifikasi.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang tidak beracun dan biodegradable yang diperoleh dari sumber terbarukan (Hossain 2008). Penelitian terbaru telah terbukti bahwa produksi minyak dari ganggang menunjukan keunggulan dibanding dengan tanaman terestrial seperti kelapa sawit, kedelai atau jatropha serta memiliki potensi besar untuk menggantikan bahan bakar fosil. Kecepatan pertumbuhan ganggang jauh lebih cepat daripada pertumbuhan tanaman terrestrial. Produksi per unit minyak dari ganggang setahun diperkirakan  20.000 sampai 80.000 L per hektar. Angka ini 7-31 kali lebih besar dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit (Demirbas 2011).
Dalam dunia tumbuhan ganggang termasuk kedalam dunia tallopyta (tumbuhan talus), karena belum mempunyai akar, batang dan daun secara jelas.   Ganggang merupakan organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Ganggang bahkan dapat dianggap tidak memiliki “organ” seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun, dan sebagainya). serupa benang atau lembaran. Tumbuhan ganggang merupakan tumbuhan tahun yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah.
Tubuh ganggang menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar, tetapi sernua selnya selalau jelas mempunyal inti dan plastida dan dalam plastidnya terdapat zat-zat warna derivat kiorofil yaltu kiorofil a, b atau kedua-duanya. Selain derivat-derivat klorofil terdapat pula zat-zat warna lain yang justru kadang-kadang lebih inenonjol dan menyebabkan ketompok-kelompok ganggang tertentu diberi nama menurut warna tadi. Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin (berwama biru), fikosantin (berwarna pirang), fikoeritrin (berwarna merah merah). Disamping itu juga diternukan zat-zat warna santofli dan karoten.
  Penggunaan ganggang sebagai tanaman bahan bakar alternatif memiliki potensi lebih besar karena mudah beradaptasi dengan baik serta kemungkinan tumbuh baik di perairan tawar maupun laut. Kondisi tersebut memungkinkan produksi minyak dari bahan baku ganggang dapat menghindari penggunaan lahan. Selain itu, dua pertiga dari permukaan bumi ditutupi dengan air, sehingga ganggang akan benar-benar menjadi pilihan terbarukan yang memiliki potensi besar untuk dunia dalam mencukupi kebutuhan energy. Schenk et al (2008) menyatakan bahwa biofuel dari bahan baku ganggang tampaknya menjadi satu-satunya sumber terbarukan saat ini yang dapat memenuhi global permintaan untuk bahan bakar transportasi. Hossain et al (2008) juga memperkuat pendapat bahwa ganggang telah muncul sebagai salah satu sumber yang paling menjanjikan untuk produksi biodiesel.
B. Potensi Ganggang
Kebutuhan biodiesel yang besar otomatis akan membutuhkan bahan baku yang besar pula. Kriteria bahan baku yang dibutuhkan adalah mudah tumbuh, mudah dikembangkan secara luas, dan mengandung minyak nabati yang cukup besar. Berikut adalah pemaparan kelebihan ganggang sebagai bahan baku biodiesel.
1. Ganggang mengandung minyak nabati hingga 75%
Salah satu alasan utama mengapa ganggang digunakan menjadi biodiesel adalah kandungan minyak nabati pada ganggang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan bahan baku biodiesel lain seperti kacang kedelai, kapas, jatropha dan lain-lain. Dengan lebih tingginya kandungan minyak nabati pada ganggang dibanding dengan tumbuhan lain maka kebutuhan lahan untuk produksi biodiesel dari ganggang juga lebih sedikit. Berikut adalah gambaran kebutuhan lahan untuk produksi biodiesel.
2. Ganggang merupakan jenis tumbuhan yang paling cepat tumbuh di alam
Jagung atau tanaman pertanian lain membutuhkan waktu hingga setahun untuk tumbuh, sementara ganggang dapat tumbuh dalam beberapa hari. Waktu panen ganggang yang cepat dapat menghasilkan yang lebih efisien dengan jangka waktu yang lebih singkat dalam area yang lebih kecil jika dibandingkan dengan tumbuhan lain.
3. Ganggang mengkonsumsi karbon dioksida ketika tumbuh, sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan
Ketergantungan akan BBM mengakibatkan peningkatan kandungan CO2 di atmosfer. Dengan memanfaatkan ganggang yang mengkonsumsi CO2 untuk menghasilkan minyak, biodiesel dapat diproduksi secara efisien sementara mengurangi penambahan CO2 ke atmosfer.
4.  Sumber pertumbuhan ganggang mudah diperoleh
Agar dapat tumbuh dengan baik ganggang hanya membutuhkan beberapa sumber dasar yaitu: CO2, air, cahaya matahari dan nutrien. Cahaya matahari dapat diperoleh hampir sepanjang tahun, ketika malam maka dapat digunakan lampu untuk menggantikan cahaya matahari. Karbon dioksida dapat diperoleh dalam konsentrasi tinggi dari power plant dan proses industri sebagai gas buangan. Ganggang dapat tumbuh di kebanyakan sumber air dengan variasi tingkat pH. Alasan ini menjadi salah satu kelebihan ganggang karena ganggang tidak perlu bersaing dengan manusia atau tumbuhan pertanian lain dalam mengkonsumsi air bersih.
C. Pengolahan Ganggang
Pengolahan ganggang untuk biodiesel dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu penumbuhan, pemanenan dan pengambilan minyak.
1. Penanaman (Algae Cultivation)
a. Pembukaan Lahan Budidaya Terbuka(Open Raceways)
Banyak pilihan untuk pertanian ganggang skala besar. Kebutuhan ganggang akan sinar matahari, nutrisi, dan karbon dioksida untuk berkembang serta bereproduksi para petani ganggang subsisten menggunakan lahan terbuka besar dengan medium cair untuk tumbuh ganggang mereka. Kebanyakan lahan terbuka dirancang dengan arus yang terus-menerus sehingga semua organisme menerima sinar matahari yang cukup. Karbon dioksida juga dipompa ke dalam air untuk menjaga ganggang hidup, dan nutrisi sering diisi ulang untuk mendukung pertumbuhan maksimum. Keuntungan untuk lahan terbuka ini murah, dapat mendukung populasi besar ganggang, dan bisa menggunakan air limbah dan emisi CO2 dari pabrik-pabrik industri lokal. Namun, lahan terbuka rentan terhadap kontaminasi dan sulit untuk menemukan cara yang efisien untuk memanen ganggang dari lahan terbuka besar ini karena luasnya area dan aliran air konstan.
          b. Bioreaktor
                        Metode lain untuk budidaya ganggang adalah foto – bioreaktor. Foto–bioreaktor Ini dirancang dengan tinggi, transparan , wadah tertutup yang memungkinkan petani ganggang untuk mengontrol semua aspek lingkungan seperti tingkat suhu , cahaya, karbon dioksida dan nutrisi , serta menghindari kontaminasi . Bioreaktor dapat dibangun dalam menggunakan cahaya buatan atau  menggunakan sinar matahari. Bioreaktor ini juga dapat dipasangkan dengan tanaman industri lokal untuk menggunakan sumber-sumber limbah. Metode budidaya memungkinkan untuk menghasilkan ganggang dalam jumlah yang tinggi dan dapat dipanen setiap hari , tetapi pembuatan bioreactor ini sangat mahal, dan memerlukan desain yang kompleks untuk mempertahankan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan ganggang. Kadar oksigen,  karbon dioksida yang berlebih serta berlimpahnya ganggang dapat terjadi dalam sistem ini jika tidak disaring secara efisien  yang berakibat membunuh populasi ganggang. Perubahan pH dan kurangnya nutrisi juga dapat merusak siklus pertumbuhan ganggang sehingga bioreaktor memiliki sistem pemantauan khusus untuk semua faktor-faktor lingkungan
          c. Fermentasi(Fermentation)
                        Fermentasi tumbuh ganggang menggunakan tong sinar matahari independen dengan memberi mereka makan gula. Metode ini menawarkan kontrol yang paling maksimal dalam mengatur pertumbuhan populasi ganggang, danmemungkinkan budidaya ganggang dibelahan bumi manapun. Lingkungan yang sesuai seperti suhu dan tekanan dapat dipelihara dengan mudah. Dalam metode ini, biomassa ganggang menghasilkan etanol. Namun metode fermentasi lebih mahal daripada metode budidaya lainnya. Terlebih lagi metode ini bukan efisiensi penggunaan ganggang karena etanol secara komersial digunakan sebagai aditif bensin untuk transportasi umum meskipun beberapa mobil balap dapat berjalan pada etanol murni. Oleh karena itu, untuk sebagian besar perusahaan telah dihapus gagasan fermentasi, tetapi beberapa perusahaan seperti Solazyme, masih menginvestasikan energi dan sumber daya ke dalam metode ini. Spesies ganggang lain juga telah menunjukkan tingkat pertumbuhan meningkat bila ditanam dalam medium yang mengandung sumber karbon eksogen. Spesies seperti Botryococcus brauni, Chlorella sp telah terbukti peningkatan produksi hidrokarbon di media yang kaya karbon
     2. Pemanenan (Algae Biomass Harvest)
          a. Penyaringan (Filtration)
                        Ganggang harus ditumbuhkan dalam air, untuk itu ada beberapa metode pemisahan yang efisien dalam menghilangkan sel-sel ganggang dari media cair. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu teknik adalah filtrasi dimana media cair disaring dengan kekuatan vakum melalui membran berpori sambil mengumpulkan biomassa ganggang. Filtrasi sangat efisien dalam berkonsentrasi mikroganggang kepadatan rendah, tetapi mahal dan memakan waktu (Jacquot 2009). Seluruh volume medium cair harus melewati filter. Proses ini juga sangat membosankan karena penyaringan harus dimonitor dan biomassa ganggang harus dikerok pada interval untuk menghindari penyumbatan filter .
          b. Sentrifugasi (Centrifugation)
                   Sentrifugasi adalah pemisahan ganggang dari medium cair menggunakan mesin sentrifugasi. Bagi pengusaha ganggang skala kecil penggunaan alat ini lebih mahal dibandingkan dengan yang lain. Namun, untuk produksi komersial, penggunaan mesin ini  layak karena proses ini dapat memisahkan biomassa ganggang dari volume penuh medium cair dalam satu langkah, sehingga meningkatkan efisiensi panen. Namun demikian, jumlah energi yang dibutuhkan untuk daya seperti sentrifugasi kolosal sangat besar, selain itu sel-sel ganggang sangat rapuh, gaya yang diterapkan untuk ganggang selama sentrifugasi harus tepat.
c. Flokulasi (Flocculation)
         Metode flokulasi merupakan kemajuan teknologi yang dapat digunakan dalam kombinasi dengan filtrasi untuk meningkatkan efisiensi. Flokulasi adalah sarana sel-sel ganggang berkumpul dan membentuk massa dengan penambahan bahan kimia atau zat organik. Pertimbangan hati-hati harus dilakukan ketika memilih substansi untuk menginduksi flokulasi karena beberapa zat dapat mencemari produk akhir. Studi yang dilakukan oleh Lee et al (2010) menunjukkan bahwa penambahan zat karbon organik, seperti asetat, glukosa, atau gliserin, menginduksi flokulasi signifikan dan meningkatkan efisiensi pemulihan biomassa ganggang.
3. Pengambilan Minyak (Oil Extraction)
     a. Transesterifikasi (Transesterification)
                   Meskipun teknik transesterifikasi telah digunakan selama lebih dari satu abad, namun baru-baru ini digunakan sebagai metode ekstraksi untuk memperoleh bahan bakar dari minyak ganggang. Transersterifikasi merupakan reaksi umum untuk produksi biodiesel. Transesterifikasi adalah reaksi antara ester (TAG) dan alkohol (metanol) untuk membentuk ester yang berbeda (metil ester) dan alkohol (gliserol) dengan adanya katalis (Dewitt 2010). Di hadapan katalis, alkohol terdeprotonasi yang membentuk nukleofil kuat, yang memungkinkan untuk bereaksi dengan trigliserida untuk membentuk tiga metil ester baru (BBM) dan gliserol (sampingan). Gliserol akan berada di bawah dengan biodiesel atau bahan bakar di atas. Glcyerol dapat dilepas dan digunakan untuk berbagai produk yang tersisa dengan biodiesel untuk bahan bakar (Willey et al 2009)
     b. Pirolisis (Pyrolisis)
                    Meskipun belum ditentukan apakah proses pirolisis dapat digunakan untuk produksi minyak ganggang menguntungkan secara ekonomi, namun proses ini telah diteliti selama beberapa tahun dan sedang dalam tahap pengembangan skala besar komersial dengan beberapa fasilitas percontohan. Pirolisis adalah alat teknologi yang menjanjikan karena berhubungan dengan memecah ikatan kimia dalam bahan organik untuk membuat bahan bakar cair. Sebagian besar bahan organik memiliki ikatan kimia yang dapat dipecah dan memproduksi produk-produk energi tinggi serta memiliki potensi besar untuk jumlah massa bahan bakar yang akan dibuat. Proses pirolisis diawali dengan biomassa, yang pada umumnya bahan baku, ditempatkan dalam ruang dan dipanaskan tanpa oksigen. Dengan tidak adanya oksigen, panas digunakan untuk memecah ikatan kimia dengan menguap banyak konstituen.
     c. Long-chain Hydrocarbons
                   Beberapa spesies ganggang menghasilkan hidrokarbon daripada lipid dan TAG. Perbedaan dalam bahan baku dapat mengakibatkan perbedaan dalam konversi produk, dan karakteristik produk. Hidrokarbon rantai panjang yang ditemukan di ruang intrasel dari ganggang Botryococcus braunii (juga dikenal sebagai botyrocennes) sangat mirip dengan komposisi minyak mentah. Hidrokarbon diekstrak sehingga dapat dikonversi ke bahan bakar dengan hydrocracking, telah dilakukan di kilang minyak. Hal ini menguntungkan karena, pertama, teknologi dan infrastruktur sudah tersedia di banyak bagian dunia. Ganggang dapat tumbuh dan hidrokarbon diekstrak, kemudian dijual ke kilang sebagai produk dasar yang sama seperti minyak mentah. Hal ini dapat berkontribusi lebih dari sekedar bahan bakar, tetapi juga produk sampingan yang berguna lainnya penyulingan. Minyak mentah disuling untuk banyak produk konsumen sehari-hari. Telah terbukti bahwa hidrokarbon di Botryococcus braunii dapat dikonversi oleh hidrocracking katalitik untuk 67% bensin minyak bumi, 15% bahan bakar jet, dan 15% solar (Tran et al 2010)
D. Kesimpulan
               Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar terdiri dari wilayah perairan. Krisis sumber energi seharusnya dapat diatasi oleh negara ini dengan mengembangkan biodiesel dari ganggang. Pembangunan perusahaan yang bergerak dibidang biodiesel dari ganggang harus dikembangkan di negara ini untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan sumber energi. Sinergi antara pemerintah, pengusaha dan peneliti harus dibangun untuk mengembangkan biodiesel dari ganggang.


DAFTAR PUSTAKA

Demirbas, A dan  M.F. Demirbas. 2011. Importance of algae oil as a source of biodiesel. Energy Convert and Manage 52: 163-170.
Dewitt. 2010. Dewitt and Company Inc. http://www.methanol.org Diakses 7 september 2013
Hossain, A. Salleh, Boyce, P. Chowdhury dan M. Naqiuddin. 2008. Biodiesel fuel production from algae as renewable energy. Journal of Biochem. Biotech., 4 (3): 250-254.
Jacquot, Jeremy.2010.  5 Companies Making Fuel from Algae Now. Popular Mechanics. http://www.popularmechanics.com Diakses 7 September 2013
Janaun, J. and E. Naoko. 2010. Perspectives on biodiesel as a sustainable fuel. Renew Sustain Energy  (14) 1 : 1312-1320.
Lee, Andrew K. Lewis, David M. Ashman, Peter J. 2009. Microbial flocculation: a potentially low-cost harvesting technique for marine microalgae for the production of biodiesel.  J Appl Phycol. 21: 559-567.
Schenk, P.M., S.R. Thomas-Hall, E. Stephens, U.C. Marx, J.H. Mussgnug, C. Posten. O. Kruse dan B. Hankamer. 2008. Second generation biofuels: High-Efficiency microalgae for biodiesel production. Bioenergy Res (1): 20-43
Tickell, J. 2000. From the Fryer to the Fuel Tank third ed. LA: Tickell Energy Consultants Covington
Tran, N.H., Bartlett, J.R., Kannangara, Milev, A.S., Volk, H., Wilson, M.A. 2010. Catalytic upgrading of biorefinery oil from micro-algae.J Fuel tech 89 : 265–274