Wednesday, December 18, 2013

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM DAN TAHUNAN Prospek dan Bahan Tanam Karet (Hevea brasiliensis)

Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi FP UNS
I. PENDAHULUAN

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah tanaman tahunan, yang merupakan salah satu komoditi unggulan tanaman perkebunan. Industri perkebunan karet hanya cocok pada areal hutan hujan tropis, yang terletak antara 15o Lintang Selatan dan 15o Lintang Utara garis katulistiwa, yang memiliki kondisi tumbuh yang optimum. Pada habitat asalnya pohon karet (Hevea brasilliensis) tumbuh diantara kayu – kayu lain di hutan hujan tropis di Amazon-Brazil. Tetapi di Asia Tenggara, karet tumbuh pada perkebunan yang monokultur / sejenis.
Karet merupakan komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta tenaga kerja, komoditi ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan dengan nilai US$ 1.106 juta, namun pada tahun 2003 turun menjadi nomor dua setelah kelapa sawit dengan nilai US$ 1.494 juta (nilai ekspor minyak sawit mencapai US$ 2.417 juta). Di samping itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenis pajak dan pungutan perusahaan.
Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO2 dan penghasil O2, serta memberi fungsi orologis bagi wilayah di sekitarnya. Selain itu tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat menstubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam.
Indonesia merupakan negara dengan areal tanaman karet terluas di dunia. Pada tahun 2002, luas perkebunan karet Indonesia mencapai 3,318 juta ha, disusul Thailand (1,96 juta ha), Malaysia (1,54 juta ha), China (0,61 juta ha), India (0,56 juta ha), dan Vietnam (0,32 juta ha). Dari areal tersebut diperoleh produksi karet Indonesia sebesar 1,63 juta ton yang menempati peringkat kedua di dunia, setelah Thailand dengan produksi sekitar 2,35 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati India (0,63 juta ton), Malaysia (0,62 juta ton), China (0,45 juta ton), dan Vietnam (0,29 juta ton).
Pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan perlu didasarkan pada perencanaan yang lebih terarah dengan sasaran yang lebih jelas serta mempertimbangkan berbagai permasalahan, peluang dan tantangan yang sudah ada serta yang diperkirakan akan ada sehingga pada gilirannya akan dapat diwujudkan agribisnis karet yang berdaya saing dan berkelanjutan serta memberi manfaat optimal bagi para pelaku usahanya secara berkeadilan. Makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi dan acuan bagi para pelaku usaha, penentu kebijakan dan stakeholders lainnya yang terkait, baik langsung ataupun tidak langsung dalam mendukung Pengembangan Agribisnis Karet Indonesia ke depan.
Tabel 1. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Seluruh Indonesia menurut pengusahaan

Tahun

Luas Areal (Ha)


Produksi (Ton)












PR
PBN
PBS
Total
PR
PBN
PBS
Total











2001
2,838,421
221,876
284,470
3,344,767
1,209,284
182,578
215,599
1,607,461

2002
2,825,476
221,228
271,655
3,318,359
1,226,647
186,535
217,177
1,630,359

2003
2,772,490
241,625
275,997
3,290,112
1,396,244
191,699
204,405
1,792,348

2004
2,747,899
239,118
275,250
3,262,267
1,662,016
196,088
207,713
2,065,817

2005
2,767,021
237,612
274,758
3,279,391
1,838,670
209,837
222,384
2,270,891

2006
2,832,982
238,003
275,442
3,346,427
2,082,597
265,813
288,821
2,637,231

2007
2,899,679
238,246
275,792
3,413,717
2,176,686
277,200
301,286
2,755,172

2008
2,910,208
238,210
275,799
3,424,217
2,173,616
276,809
300,861
2,751,286

2009
2,911,533
239,375
284,362
3,435,270
1,942,298
238,656
259,393
2,440,347

2010*
2,934,378
236,714
274,029
3,445,121
2,065,178
252,408
274,349
2,591,935

2011**
2,935,081
239,132
275,931
3,450,144
2,104,952
259,973
275,924
2,640,849











Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2011

Keterangan / Note :  *) Sementara / Preliminary,   **) Estimasi / Estimation
Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui peremajaan atau penanaman baru karet yang cukup besar, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3,5 juta ton dan pada tahun 2035 sebesar 5,1 juta ton. Peremajaan atau penanaman baru karet dapat menghasilkan produksi yang tinggi jika dilakukan dengan teknologi budidaya seperti pemupukan, pemeliharaan yang tepat dan juga bahan tanam yang digunakan berasal dari benih unggul bermutu.

Penggunaan bahan tanam karet yang unggul merupakan modal utama dalam menentukan keberhasilan usaha perkebunan karet dalam hal ini mampu memberikan hasil lateks secara optimal di lapangan.Kesalahan dalam memilih bahan tanam, akan mengakibatkan kerugian yang akan dirasakan pekebun selama 25 tahun. Dalam pemilihan bahan tanaman harus dipertimbangkan secara cermat karena jika terdapat kekeliruan dalam pemilihan akan berdampak negatif terhadap perkebunan dan terhadap usaha karet alam nasional. Penggunaan bibit tidak bermutu akan berakibat :

a.    Tanaman yang tidak berkualitas memiliki heterogenitas tinggi, pertumbuhan lambat dan produktivitas rendah.
b.   Pemeliharaan yang optimal tetap tidak memberikan manfaat.
c.    Tidak ada sistem eksploitasi yang mampu memberikan hasil tinggi dalam jangka panjang secara konsisten. 
Benih  bermutu  dapat  berasal  dari  sumber  benih  yang  telah  diketahui cukup baik mutu benihnya, baik perorangan maupun perusahaan. Mata okulasi yang terjamin mutunya dapat diperoleh dari kebun entres yang telah dimurnikan dan dijaga perawatannya.


II. PEMBAHASAN

A. Prospek Tanaman Karet di Indonesia
Potensi perkebunan karet di Indonesia memiliki prospek yang cerah. Hal itu didukung dari luas lahan 3,4 juta hektar, perkebunan karet Indonesia didaulat sebagai yang terluas di dunia lalu diikuti Thailand, China dan Malaysia. Tanaman karet merupakan komoditas perkebunan penting di Indonesia. Hal ini tercermin dari nilai ekspor yang diberikan, yaitu mencapai 1,2 milyar US $ pada tahun 2001. Di sampmg nilai ekspornya, komoditaskaret juga berkontribusi terhadap sumber mata pencaharian lebih dari 1,75 juta keluarga petani Indonesia di areal sentra produksi saja. Prospek tanaman karet di masa depan masih sangat baik, karena berkembangnya industri berbasis karet di China sehingga permintaan karet alam terus meningkat. Hal ini terbukti dari naiknya harga karet dari 0,60 US $ per kg menjadi 1,2 US $ per kg sejak akhir tahun 2003, hingga saat ini mencapai 1.6 US $ per kg. Pada tahun 2020 diperkirakan China akan memerlukan sekitar 4 juta ton karet alam.
Potensi yang ada saat ini merupakan peluang bagi industri karet nasional untuk terus berproduksi maksimal. Prospek industri karet ke depan cukup baik sejalan dengan bergesernya konsumsi karet dunia dari Eropa dan Amerika ke Asia (terutama Cina dan India).Peluang ini harus dapat ditangkap oleh industri keret indonesia.
Peningkatan permintaan terhadap karet alam membuka peluang yang sangat baik bagi Indonesia untuk memngkatkan produksinya. Dibandingkan dengan Malaysia, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk meningkatkan produksi karet alam tersebut karena Malaysia dihadapkan pada masalah keterbatasan tahan dan mahalnya upah tenaga kerja. Pada tahun 2002, Indonesia tercatat memiliki lahan karet seluas 3,3 juta hektar, tetapi tingkat produktivitas rata-rata masih rendah yaitu 600 – 650 kg karet kering/ha/tahun.
Sayangnya, meski memiliki lahan terluas di dunia, produktivitas karet di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Thailand dan Malaysia. Di Indonesia, produksi karet per tahun sebesar 2,7 juta ton. Dari sisi produktivitasnya, Indonesia baru mencapai 1 ton/ha, sementara Malayasia 1,3 ton/ha,dan Thailand 1,9 ton/ha. Sementara dari segi penyerapan tenaga kerja,di sektor on farm sekitar 2,1 juta orang,sedangkan di sektor off farm sekitar 100 ribu orang.
Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (+ 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.
Prospek bisnis penyediaan bahan tanam karet ke depan cukup menjanjikan, karena pasarnya masih sangat terbuka dan potensi keuntungan yang dapat diraih oleh penangkar cukup memadai. Sebagai gambaran, tingkat B/C ratio pengusahaan bahan tanam karet dalam polibeg minimal 1,5. Harga bahan tanam karet unggul dalam polibeg (1-2 payung) saat ini di tingkat penangkar adalah sekitar Rp.2.500 - Rp 3.500 yang bervariasi menurut jenis klonnya.
Pada sisi lain, kayu karet yang ada saat ini baru sebagian kecil dimanfaatkan untuk kayu olahan, papan partikel dan papan serat. Hal ini terjadi karena lokasi pabrik pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga proporsi biaya transportasi menjadi tinggi (> 50% dari harga jual petani). Oleh karena itu, harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik bagi petani. Dengan penataan kelembagaan yang lebih baik, kayu karet rakyat merupakan potensi yang sangat besar dalam agribisnis karet.
Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagai jenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS, SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang karet. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut saluran pemasaran (market channel). Pengelompokan yang umum dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1) ban dan produk terkait serta ban dalam, (2) barang jadi karet untuk industri, (3) kemiliteran, (4) alas kaki dan komponennya, (5) barang jadi karet untuk penggunaan umum dan (6) kesehatan dan farmasi.
Pemanfaatan karet alam di luar industri ban kendaraan masih relatif kecil, yakni kurang dari 30 persen. Selain itu industri karet di luar ban umumnya dalam skala kecil atau menengah. Sementara itu industri berbasis lateks pada saat ini nampaknya belum berkembang karena banyak menghadapi kendala. Kendala utama adalah rendahnya daya saing produk-produk industri lateks Indonesia bila dibandingkan dengan produsen lain terutama Malaysia.
Volume impor karet alam ke Indonesia relatif sangat kecil, dan terbatas dalam bentuk lateks pekat yang dibutuhkan oleh industri barang jadi lateks dalam negeri. Sementara itu volume ekspor karet alam mencapai lebih dari 90% dari total produksi karet nasional dengan negara tujuan utama USA, China, Singapura, Jepang dan Jerman, sedangkan sisanya (7-10%) diserap oleh industri dalam negeri. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan dengan Malaysia, dimana industri hilir di dalam negeri mampu menyerap sekitar 70% dari total produksi negara tersebut. Rendahnya konsumsi karet alam domestik mencerminkan belum berkembangnya industri hilir yang berbasis karet alam. Hal ini mengakibatkan perolehan nilai tambah komoditi karet masih relatif rendah.
Dalam aspek produksi, Indonesia memiliki kemampuan bersaing, terutama dalam segmen produksi bahan olah karet (bokar) dibanding dengan negara-negara produsen utama karet alam lainnya. Pada tingkat harga di bawah US $ 0,8 per kg, Malaysia sudah tidak mampu menutupi ongkos produksi (taping-cost) karet alamnya dan Thailand sudah pada tingkat mendekati rugi. Sedangkan Indonesia pada level harga seperti ini, masih mampu memproduksi karet alam secara menguntungkan. Indonesia merupakan negara penghasil karet alam dengan tingkat daya saing tertinggi jika dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia.
Potensi hasil agribisnis karet yang perlu segera dieksplorasi saat ini dan ke depan adalah kayu karet, untuk mengantisipasi permintaan kayu di tingkat domestik dan dunia yang terus meningkat. Pada kenyataannya, kebutuhan kayu bulat total dunia per tahun terus meningkat. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi dari hutan alam yang ada sekarang karena adanya penurunan areal hutan, eksploitasi kayu hutan yang berlebihan dan tidak diikuti dengan program reboisasi yang berkesinambungan.
Arah pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal sebagai berikut :

1. Permintaan karet alam dunia ke depan akan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dunia, semakin mahalnya  bahan  baku karet  sintetis,  dan  meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan.
2. Produksi karet di Malaysia diperkirakan akan terus mengalami penurunan karena kebijakan pemerintahnya lebih berkonsentrasi pada industri hilir dan juga telah mengalihkan sebagian areal tanaman karet menjadi areal kelapa sawit.
3. Thailand diperkirakan akan menghadapi banyak kendala dalam upaya peningkatan karet alamnya karena keterbatasan ketersediaan lahan pengembangan yang berlokasi di wilayah bagian utara dengan kondisi marginal sehingga produktivitasnya lebih rendah serta keterbatasan dalam jumlah tenaga kerja.
Untuk mencapai kondisi agribisnis karet yang berdaya saing tinggi dan posisi Indonesia sebagai negara penghasil karet dan produk karet terbesar di dunia tersebut diperlukan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
1. On-farm
Upaya yang ditempuh adalah meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan karet melalui:
a. Penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai produktivitas lateks potensial lebih dari 3.000 kg/ha/th, dan menghasilkan produktivitas kayu karet lebih dari 300 m3/ha/siklus.
b. Percepatan peremajaan karet tua dan tidak produktif terutama pada perkebunan karet rakyat (peningkatan adopsi klon dari 40% pada tahun 2004 menjadi 55% pada tahun 2009, dan meningkat menjadi 85% pada tahun 2025), yang terutama direalisasikan melalui gerakan peremajaan tanaman karet rakyat seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan seluas 1,2 juta ha sampai dengan tahun 2025.
c. Diversifikasi usahatani karet melalui integrasi dengan tanaman pangan dan ternak untuk peningkatan pendapatan keluarga tani.
d. Peningkatan efisiensi usaha pada setiap tahap proses produksi untuk menjamin marjin keuntungan dan daya saing yang tinggi.
2. Off-farm
Di bidang off-farm upaya yang ditempuh untuk meningkatkan mutu, nilai tambah dan pendapatan petani adalah melalui:
a. Peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan petani sesuai dengan SNI bokar yang disyaratkan oleh industri pengolahan.
b. Peningkatan efisiensi pemasaran bokar dan penguatan kelembagaan petani untuk mencapai bagian harga yang diterima petani minimal 75% dari harga FOB pada tahun 2009 dan 80% pada tahun 2025. Penyediaan Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terkait dengan peremajaan karet dan pengembangan usaha bersama dalam kegiatan pengolahan dan pemasaran.
c. Pengembangan infrastruktur yang menunjang pengembangan produksi dan pengolahan barang jadi karet.
d. Peningkatan nilai tambah produk melalui pengembangan industri hilir yang ramah lingkungan yang dicerminkan melalui peningkatan daya serap bokar minimal 10% dari produksi pada tahun 2009, dan minimal 25% pada tahun 2025.
e. Peningkatan pendapatan petani mencapai sekitar US$1.500 pada tahun 2009 dan US$ 2.000 pada tahun 2025 melalui berbagai upaya peningkatan hasil usahatani (perbaikan sistem produksi, pengolahan dan pemasaran), dan penciptaan usaha industri kecil dan menengah pedesaan.

B. BAHAN TANAM
Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah bibit/bahan tanam, dalam hal ini bahan tanam yang baik adalah yang berasal dari tanaman karet okulasi. Persiapan bahan tanam dilakukan paling tidak 1,5 tahun sebelum penanaman. Dalam hal bahan tanam ada tiga komponen yang perlu disiapkan,yaitu: batang bawah (root stock), entres/batang atas (budwood), dan okulasi (grafting) pada penyiapan bahan tanam.
Untuk mendapatkan bahan tanam yang ungggul dan bermutu, yaitu hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang baik, pada dasarnya mata okulasi dapat diambil dari dua sumber, yaitu berupa entres cabang dari kebun produksi atau entres dari kebun entres. Dari dua macam sumber mata okulasi ini sebaiknya dipilih entres dari kebun entres murni, karena entres cabang akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah.
Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul. Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum mini, bibit dalam polibeg, atau stum tinggi. Untuk tanaman karet, mata entres ini yang merupakan bagian atas dari tanaman dan dicirikan oleh klon yang digunakan sebagai batang atasnya.
Untuk memperoleh mata entres yang bermutu, dapat diperoleh dari tanaman karet dengan klon – klon yang sudah direkomendasikan dan sudah menjadi benih bina. Berdasarkan rumusan lokakarya nasional pemuliaan tanaman karet tahun 2005, klon - klon karet yang direkomendasikan untuk periode tahun 2006 - 2010 terdiri atas dua kelompok , yaitu klon anjuran komersil dan klon harapan. Kelompok klon anjuran komersil merupakan sekelompok klon yang telah diuji dan dapat dikembangkan oleh pengguna (petani dll). Sedangkan klon harapan merupakan klon yang mempunyai potensi pertumbuhan dan produksi tinggi tetapi belum berupa benih bina. Contoh klon harapan IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 64, IRR 105, IRR 107, IRR 111, IRR 119, IRR 141, IRR 208, IRR 211, IRR 220.
Klon Anjuran Komersial :
1.      Klon penghasil lateks : klon yang mempunyai potensi hasil lateks sangat tinggi tetapi hasil kayunya sedang. Contoh : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260.
2.      Klon penghasil kayu : klon yang memiliki cirri potensi lateks yang rendah namun memiliki hasil kayu yang tinggi. Contoh : BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR 118.
3.      Klon penghasil lateks-kayu : klon yangmemiliki potensi hasil lateks yang tinggi dan hasil kayunya juga tinggi. Contoh : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78.
Agar kebutuhan benih unggul dapat berhasil, maka perlu didukung dengan ketersediaan Kebun Sumber Benih Karet. Maka kebun-kebun entres yang ada sebagai sumber benih batang atas perlu dilakukan pemurnian. Kebun entres merupakan tempat mengkoleksi material genetiksebagai sumber mata tunas yang akan tumbuh sebagai batang atastempat lateks diperoleh.
Sebagaimana disebutkan di atas maka kegiatan pemurnian kebun entres harus dilakukan sebelum pemanenan entres dilakukan. Pemurnian dilakukan oleh tenaga yang terlatih dalam mengenal ciri-ciri setiap klon karet harus sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan. Sebagai persyaratan sebelum melakukan pemurnian kebun entres adalah sebagai berikut:
1. Kebun entres dikelola sesuai dengan standar baku dalam pengelolaan kebun entres

2. Penanaman antar klon karet dalam petakan-petakan yang terpisah

3. Umur kebun entres antara 8-12 bulan atau minimal 3-4 payung dan belum pernah dipanen

4. Kebun entres dalam kondisi sehat, tidak terserang penyakit daun

5. Kebun entres bersih dari gulma

6. Kebun entres tidak terlindung/ternaung
Sedangkan untuk persyaratan kebun entres karet dimulai dari tanah dan kebun, rancangan pertanaman kebun entres, lokasi kebun, pemeliharaan dan pemurnian kebun entres secara rinci seperti dibawah ini:


No.
Tolok Ukur
Persyaratan



1
Rancangan pertanaman


kebun entres:


a. Jarak tanam
1 x 1 m

b. Jarak antar klon
Minimal 2 m

c. Pola tanam
Batas antar klon jelas

d. Jenis klon
Klon anjuran (benih bina)

e. Umur tanaman
< 20 tahun



2
Lokasi kebun


a. Drainase
Baik

b. Topografi
Datar s/d bergelombang (< 15º)

c. Lokasi
Mudah dijangkau



3
Kondisi tanaman


a. Gulma
Terkendali

b. Pertumbuhan
Baik dan seragam

c. Kesehatan
Bebas gangguan hama dan penyakit utama



4
Mutu Genetis
Sebelum digunakan harus dimurnikan oleh tenaga


yang berkompeten untuk mencapai tingkat


kemurnian 100 %
5
Mutu Fisiologis


a. Mutu pertumbuhan
Baik dan segar

b. pemangkasan dan
Dilakukan pemangkasan secara

percabangan
regular dan dipelihara maksimal 3 cabang/pohon


untuk entres coklat dan maksimal 10 cabang /


pohon entres hijau
Ketidakmurnian yang terjadi pada kebun entres akan terbawa pada penyebaran bahan tanam / benih yang dihasilkan. Terjadinya ketidakmurnian klon karet pada kebun entres dikarenakan oleh hal-hal sebagai berikut:

a. Tunas yang tumbuh berasal dari batang bawah bukan dari mata okulasi yang ditempelkan. Hal ini terjadi bila bibit yang digunakan adalah stum mata tidur dan pembuangan tunas palsu terlambat atau kurang cermat waktu memilih bibit. Tanaman demikian tergolong semaian yang harus dibuang dan disulam dengan menggunakan bibit klonal yang sesuai.

b. Tercampurnya bibit beberapa klon pada saat penanaman sebagai akibat dari :

1)        Kesalahan waktu okulasi di pembibitan pada saat penyiapan bibit untuk kebun entres

2)        Entres yang digunakan untuk penyiapan bibit untuk kebun entres tidak murni

3)        Tercampurnya klon pada saat bongkar bibit

4)        Sumber bibit untuk pembangunan kebun entres tidak jelas asal-

usulnya.

Mutu fisik batang atas / entres juga menyangkut kesegaran kayu okulasi. Kayu okulasi sebagai sumber mata okulasi sebaiknya segera dipakai setelah pemotongan dari tanaman induknya. Mata tunas yang baik adalah yang berasal dari kebun entres yang sehat, umurnya hampir sama dengan umur bibit batang bawah dan jenis mata untuk okulasi coklat (umur batang bawah ≥ 7 bulan dan berwarna coklat) adalah mata ketiak daun. Standar mutu mata okulasi atau entres ialah :

a.  Berasal dari kebun entres yang terawat baik sesuai anjuran
b. Umur kayu okulasi setelah penyerongan kurang dari 3 hari dan jaringan masih segar
c. Berasal dari klon anjuran komersial dengan kemurnian 100%
Mata tunas yang berasal dari ketiak daun digunakan untuk okulasi coklat (umur batang bawah ≥ 7 bulan dan berwarna coklat) dan mata sisik yang berasal dari daun yang rudimenter digunakan untuk okulasi tanaman muda (3-4 bulan).


III. KESIMPULAN
Prospek tanaman karet di Indonesia bagus untuk ke depannya karena banyak peluang dalam pemanfaatan karet untuk kebutuham manusia sehingga budidaya tanaman karet yang efektif dapat meningkatkan pendapatan. Bibit karet yang unggul dan bermutu dapat diperoleh dari kebun entres yang memenuhi standar teknis kebun entres karet dan sudah dilakukan pemurnian kebun entres karet sesuai dengan standar yang berlaku. Dengan adanya kebun entres karet diharapkan bibit karet yang bermutu dapat dihasilkan guna memenuhi kebutuhan bibit yang bermutu untuk mendukung program pemerintah dalam revitalisasi kebun karet di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C.2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.
Aidi. 1995. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian Sembawa. Palembang.
Deptan., 2006. Basis Data Statistik Pertanian (http://www.database.deptan.go.id/). Diakses tanggal 5 Mei 2009.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Para_(pohon), diakses 11 November 2013
Maryadi., 2005. Manajemen Agrobisnis Karet. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Nazaruddin dan F.B. Paimin., 1998. Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, T.H.S., 1995. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius, Yogyakarta.
Suhendry, I., 2002. Kajian finansial penggunaan klon karet unggul generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet. 21 : 1- 3

Disusun Oleh :
Adi Aribowo                        (H0712002)
Adib Fauzan Rahman        (H0712004)
Andi Susilo Nugroho           (H0712022)



MAKALAH PERLINDUNGAN TANAMAN Penyakit pada Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.)


BAB I
PENDAHULUAN

Cokelat adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia, selain sebagai cokelat batangan yang paling umum dikonsumsi, cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin.
Perkebunan kakao skala besar atau perkebunan rakyat, pernah terjadi serangan penyakit tanaman. Pada seluruh bagian tanaman kakao mulai dari akar, batang, daun , buah dapat diserang penyakit. Usaha penanganan penyakit yang menyerang kakao tidak hanya jenis penyakitnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga lingkungan serta tanaman inang alternatifnya juga harus diperhatikan. Salah satu factor lingkungan yang paling berpengaruh adalah curah hujan, kelembaban, dan suhu. Apabila tanaman mengalami kerusakan akibat penyakit, tindakan yang dilakukan adalah melakukan diagnosis. Tindakan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan pengendalian. Apabila ada serangan suatu penyakit yang kurang merugikan belum perlu dikendalika, tetapi tetap perlu diperhatikan, karena suatu serangan penyakit yang kurang merugikan ini daya merusaknya bias meningkat jika mendapat inang yang rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung.
            Penanganan serangan penyakit bisa dilakukan dengan memadukan beberapa teknik yang sesuai. Tujuannya untuk mengurangi kegagalan dan menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan diagnosis yang tepat, pengetahuan epidemiologi (laju pertumbuhan penyakit), dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit, maka dapat disusun suatu strategi penanganan yang efektif dan efisien. Berikut akan dibahas beberapa penyakit yang menyeang tanaman kakao.


BAB II
PEMBAHASAN 

          Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa di sektor non migas. Dalam melakukan budidaya kakao terdapat kendala yang dapat menurunkan produksi dan mutu kakao yaitu berupa serangan hama dan penyakit. Keberhasilan pengendalian hama dan penyakit sangat ditentukan oleh pengetahuan tentang penyebab kerusakan tersebut. Oleh karena itu pengenalan jenis hama dan penyakit pada kakao dan gejalanya sangat diperlukan agar dalam usaha pengendaliannya dapat berhasil dengan baik.
          Berdasarkan pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) yang di definisikan sebagai suatu konsep/pemikiran/program dalam mengatasi masalah hama dan penyakit didasarkan pada beberapa pertimbangan ekologis, ekonomis dan biologis.
Adapun pemakaian pestisida merupakan alternatif terakhir dalam pengendalian hama terpadu. Beberapa penyakit yang menyerang tanaman kakao antara lain:

1.        Penyakit Busuk Buah (Phytophthora palmivora)
Gambar 11  : 
       Ordo : Pythiales
       Famili : Pythiaceae
        Genus : Phytophthora
       Spesies : Phytophthora palmivora  
Bioekologi :
Jamur ini mengadakan infeksi pada buah dapat bersumber dari tanah, batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya. P. palmivora terutama dapat bertahan dalam tanah. Dari sini jamur dapat terbawa oleh percikan-percikan air hujan ke buah-buah yang dekat tanah. Setelah mengadakan infeksi, dalam beberapa hari jamur pada buah bisa sudah dapat menghasilkan banyak sporangium. Sporangium ini dapat terbawa oleh percikan air, atau oleh angin, dan mencapai buah-buah yang lebih tinggi. Jamur yang berada dalam tanah dapat juga terangkut oleh serangga-serangga, seperti semut, sehingga mencapai buah-buah yang tinggi. Dari buah yang tinggi sporangium dapat terbawa oleh air ke buah-buah di bawahnya. Dari buah yang sakit jamur dapat berkembang melalui tangkai dan menyerang bantalan buah dan dapat berkembang terus sehingga menyebabkan terjadinya penyakit kanker batang. Dari sini kelak jamur dapat kembali menyerang buah. Berat ringannya penyakit busuk buah ditentukan oleh banyak faktor, antara lain kelembapan udara, curah hujan, cara bercocok tanam, banyaknya buah pada pohon, dan jenis tanaman.
       Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah dengan cepat menyebar ke seluruh buah. Buah menjadi busuk dalam waktu 14-22 hari. Pada permukaan buah yang sakit tadi timbul lapisan yang berwarna putih bertepung. Jamur juga masuk ke dalam buah dan menyebabkan busuknya biji-biji. Tetapi kalau penyakit timbul pada buah yang hampir masak, biji-biji masih bisa dipungut dan dimanfaatkan. 
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.    Mengurangi kelembapan kebun, misalnya dengan memperbaiki drainase, memangkas tanaman kakao dan pohon pelindung dengan teratur, dan mengendalikan gulma.
b.    Mempertahankan serasah sebagai mulsa di sekitar pangkal batang.
c.    Memanen buah yang masak secara teratur sambil membersihkan buah-buah yang sakit. Buah yang sakit beserta dengan kulit buah (cangkang) dipendam cukup dalam sehingga paling sedikit tertutup tanah setebal 10 cm.
d.   Buah diselubungi dengan plastic untuk mengendalikan busuk buah dan penggerek buah kakao.
e.    Selama musim penghujan buah-buah disemprot dengan fungisida.
2.        Kanker Batang
Gambar  :
         Ordo : Pythiales
         Famili : Pythiaceae
         Genus : Phytophthora
         Spesies : Phytophthora palmivora  

Bioekologi :
Jamur ini mengadakan infeksi pada buah dapat bersumber dari tanah, batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya. P. palmivora terutama dapat bertahan dalam tanah. Dari sini jamur dapat terbawa oleh percikan-percikan air hujan ke buah-buah yang dekat tanah. Setelah mengadakan infeksi, dalam beberapa hari jamur pada buah bisa sudah dapat menghasilkan banyak sporangium. Sporangium ini dapat terbawa oleh percikan air, atau oleh angin, dan mencapai buah-buah yang lebih tinggi. Jamur yang berada dalam tanah dapat juga terangkut oleh serangga-serangga, seperti semut, sehingga mencapai buah-buah yang tinggi. Dari buah yang tinggi sporangium dapat terbawa oleh air ke buah-buah di bawahnya. Dari buah yang sakit jamur dapat berkembang melalui tangkai dan menyerang bantalan buah dan dapat berkembang terus sehingga menyebabkan terjadinya penyakit kanker batang. Jika buah yang terserang P. palmivora tidak segera dipetik, jamur akan berkembang melalui tangkai buah dan menginfeksi kulit batang atau cabang. Dari sini kelak jamur dapat kembali menyerang buah. Jamur tidak dapat menginfeksi batang yang sehat, kecuali kalau terdapat luka-luka, misalnya luka karena serangga.
Faktor-faktor yang membantu pada busuk buah akan membantu kanker batang. Namun kalau usaha pemetikan buah sakit dilakukan dengan teliti, kanker batang hanya akan sedikit menimbulkan kerugian. Pada pohon yang sehat biasanya hanya terjadi kanker-kanker kecil. Gangguan yang berat biasanya menunjukkan adanya faktor lingkungan yang kurang baik atau tindakan agronomi yang kurang tepat.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Yang dimaksud dengan kanker dalam ilmu penyakit tumbuhan adalah luka yang berbatas jelas pada kulit, dikelilingi oleh jaringan kalus, yang seringkali terbuka sehingga kayu tampak dari luar.
Pada penyakit kanker batang kakao pada batang atau cabang yang besar terdapat tempat yang warnanya lebih gelap dan agak mengendap. Pada tanaman yang sangat rentan tempat ini sering mengeluarkan cairan kemerahan, yang setelah mongering tampak seperti lapisan karat pada permukaan kulit. Gejala ini sukar terlihat karena tertutup oleh lapisan luar kulit, lebih-lebih kalau permukaan batang tertutup oleh lumut atau lumut kerak. Kalau lapisan kulit luar dikorek, tampak bahwa lapisan kulit bagian dalam berwarna merah kecoklatan. Bercak ini dapat meluas dengan cepat sehingga banyak kulit produktif yang rusak.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.    Buah-buah yang bergejala busuk buah harus segera dipetik dan dipendam karena busuk buah berkaitan dengan timbulnya kanker batang.
b.    Perlu diusahakan agar infeksi pada kulit dapat segera diketahui. Pada bagian yang sakit kulit luar (kerak) dikorek, sehingga kulit dalam terlihat.
c.    Pemeliharaan kebun yang dilakukan sebaik-baiknya akan meningkatkan ketahanan pohon-pohon. Lebih-lebih kalau usaha ini disertai dengan pembersihan buah-buah sakit dengan daur yang pendek, misalnya seminggu sekali.
3. Vascular Streak Dieback (VSD)
Gambar  :
      Ordo : Uredinales
      Kelas : Basidiomycetes
      Genus : Oncobasidium
       Spesies : Oncobasidium theobromae

Bioekologi :
O. theobromae adalah jamur yang sangat unik, merupakan satu-satunya jenis Basidiomycotina yang menginfeksi xylem, dipencarkan oleh angin, menginfeksi daun. Sifatnya mendekati sifat jamur yang biotrofik. O. theobromae membentuk Basidiospora yang hanya pada waktu malam, dan disebarkan oleh angin. Dengan cara ini jamur tidak dapat tersebar jauh, karena kelembapan tinggi pada umumnya hanya terjadi bila udara tenang. Untuk pembentukan Basidiospora tubuh buah jamur harus basah diwaktu malam. Adanya hujan malam yang diikuti dengan embun akan membantu penyebaran penyakit.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Satu atau dua daun pada flush kedua atau ketiga di belakang titik tumbuh menguning secara khas. Pada daun ini terjadi bercak-bercak hijau kecil yang berbatas tegas, yang tersebar pada latar belakang kuning. Daun yang sakit akan gugur beberapa hari setelah menguning. Pada ranting yang bersangkutan terjadi gejala ompong, satu atau dua daun gugur, sedangkan beberapa daun di sebelah bawah dan atasnya masih lengkap.  Jika lapisan permukaan dari bekas tangkai daun yang sudah gugur disayat, terlihat adanya tiga noktah yang berwarna coklat kehitaman. Lalu adanya garis-garis berwarna coklat pada berkas pembuluh (vascular streak) yang terlihat pada penampang membujur cabang dan ranting-ranting mati dari ujungnya (dieback).
            Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.    Penanaman kultivar yang tahan terhadap penyakit ini.
b.    Melakukan pemangkasan untuk menghilangkan ranting atau cabang yang sakit yang mengandung jamur (sanitasi) dan untuk mengurangi kelembapan kebun.
c.    Pembibitan dibuat jauh dari kebun yang berpenyakit agar pembibitan menghasilkan bibit yang sehat.
4. Jamur Upas
Gambar  :
       Ordo : Stereales
       Famili : Corticiaceae
       Genus : Corticium
        Spesies : Corticium salmonicolor

Bioekologi :
Jamur upas dipencarkan oleh Basidiospora yang terbawa oleh angin. Basidiospora tidak dapat terangkut jauh dengan tetap hidup karena mempunyai dinding tipis dan hanya terbentuk bila udara lembap (udara yang lembap hanya terjadi kalau udara tenang). Adanya infeksi jamur upas pada satu pohon berarti bahwa sumber infeksi berada di sekitarnya. Selain dari cabang kakao yang sakit, infeksi bisa terjadi dari bermacam-macam tanaman inang seperti karet, kopi, pala, lada, jeruk, melinjo, nangka, jati, dan damar. Penyakit dibantu oleh kelembapan udara yang tinggi, sehingga terdapat dalam kebun yang gelap, dan pada musim hujan.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Infeksi jamur ini pertama kali terjadi pada sisi bagian bawah cabang ataupun ranting. Apabila menyerang ranting dan cabang kecil umumnya tidak menimbulkan kerugian yang berarti, karena dengan memotong ranting/cabang kecil yang terserang cukup untuk mengendalikan jamur ini dan tumbuhnya bunga pada ranting dan cabang kecil tidak kita harapkan.
Serangan  dimulai dengan adanya benang-benang jamur tipis seperti sutera, berbentuk sarang laba-laba. Pada fase ini jamur belum masuk ke dalam jaringan kulit. Pada bagian ujung dari cabang  yang sakit, tampak daun-daun layu dan banyak yang tetap melekat pada cabang, meskipun sudah kering.
        Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanis, yaitu memotong cabang/ranting sakit sampai 15 cm pada bagian yang masih sehat; membersihkan /mengeruk benang-benang jamur pada gejala awal dari cabang yang sakit, kemudian diolesi dengan fungisida. Cara kedua adalah dengan kultur teknis, yaitu pemangkasan pohon pelindung untuk mengurangi kelembaban kebun sehingga sinar matahari dapat masuk ke areal pertanaman kakao.

5. Penyakit Antraknose
Gambar  :
         Ordo : Melanconiales
         Famili : Melanconiacea
         Genus : Colletotrichum
        Spesies : Colletotrichum gloeosporioide 
Bioekologi :
Penyakit ini tersebar melalui spora yang terbawa angin ataupun percikan air hujan. Penyakit cepat berkembang terutama pada musim hjan dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Pada daun muda nampak bintik-bintik coklat tidak beraturan dan dapat menyebabkan gugur daun. Ranting gundul berbentuk seperti sapu dan mati. Pada buah muda nampak bintik-bintik coklat yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (antraknose).  Buah muda yang terserang menjadi layu, kering, dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya.
Pengendalian penyakit dilakukan dengan memangkas cabang & ranting yang terinfeksi, mengambil buah-buah yang sakit dikumpulkan dan ditanam atau dibakar. Melakukan pemupukan (N,P,K) satu setengah kali dosis anjuran. Pengaturan naungan sehingga tajuk pohon kakao tidak terkena sinar matahari langsung dan perbaikan drainase tanah untuk menghindari genangan air di dalam kebun.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Penyakit tanaman utama pada tanaman kakao antara lain : Penyakit Busuk Buah (Phytophthora palmivora), Kanker Batang, Vascular Streak Dieback (VSD), Jamur Upas, Penyakit Antraknose.
2. Pengendalian penyakit tanaman kakao berbeda untuk tiap penyakit untuk itu harus dilakukan pengendalian penyakit secara benar dengan berpedoman dengan konsep PHT




DAFTAR PUSTAKA

            Andriani 1998.  Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember: Pustaka utama
Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson 1989. An Introduction to the Study of Insects. Sixth Edition. Harcourt Brace College Publishers, Fort Worth, TX, USA.
Nuraini, Siti, Sri Widyaningsih, Riyatno, A. Sipayung dan H. Suhartawan 1996. Pedoman Pengembangbiakan Burung Hantu, Tyto alba, Sebagai Predator Tikus di Areal Tanaman Perkebunan. Jakarta: Departemen Pertanian