Showing posts with label TBT semtan. Show all posts
Showing posts with label TBT semtan. Show all posts

Wednesday, September 24, 2014

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA SEMUSIM DAN TAHUNAN Prospek dan Bahan Tanam Padi (Oryza sativa)

Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini dan pada tahun-tahun mendatang, beras masih akan menjadi sumber pangan sebagian besar penduduk Indonesia. Untuk mencapai kemandirian pangan hingga tahun 2005 Indonesia membutuhkan 34 juta ton beras atau setara dengan 54 juta ton GKG/tahun. Meski program diversifikasi pangan sudah sejak lama dicanangkan, tetapi belum juga terlihat tanda penurunan konsumsi beras, bahkan cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Pengembangan dan peningkatan produksi beras nasional mutlak diperlukan dengan sasaran utama pencapaian swasembada pangan dan kesejahteraan petani. Kenyataan menunjukkan bahwa produksi padi nasional sejak tahun 1970 hingga 2004 meningkat hampir tiga kali lipat. Hal ini tentu terkait dengan peningkatan produktivitas dan luas areal tanam. Kebutuhan beras di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat sehingga prospek tanaman padi di Indonesia cukup bagus. Keberhasilan upaya peningkatan produksi padi nasional tidak terlepas pula dari implementasi berbagai program intensifikasi yang didukung oleh inovasi teknologi pancausahatani, terutama varietas unggul dan teknologi budi daya, rekayasa kelembagaan, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Kebutuhan pangan nasional sebenarnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor. Namun karena jumlah penduduk terus bertambah dan tersebar di banyak pulau maka ketergantungan akan pangan impor menyebabkan rentannya ketahanan pangan sehingga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Usahatani padi sudah memberikan kesempatan kerja dan pendapatan bagi lebih dari 21 juta rumah tangga dengan sumbangan pendapatan 25-35%. Oleh karena itu, beras tetap menjadi komoditas strategis dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional ke depannya.

B. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini untuk mengetahui prospek tanaman padi di Indonesia dan menganalisa ekonomi petani tanaman padi di Indonesia.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan menjadi dasar pembahasan makalsah ini adalah sebagai  berikut :
1. Bagaimana kondisi argribisnis padi di Indonesia?
2. Bagaimana prospek, potensi dan arah pengembangan padi di Indonesia?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Prospek Padi di Indonesia
Laju peningkatan produktivitas padi di Indonesia cukup tinggi yang mencapai 1,0% per tahun, tetapi disamping itu luas panen turun 0,9% per tahun (Tabel 1). Indeks panen (IP) diketahui pula menurun, dari 1,56 ditahun 2002 menjadi 1,43 di tahun 2003. Penurunan IP menggambarkan bahwa usahatani padi mulai tersaing dengan usahatani komoditas selain padi yang lebih menguntungkan. Pada tahun 2004, produksi padi mencapai 54,09 juta ton, ini berarti naik 3,74% dari tahun sebelumnya. Walaupun demikian setelah tahun 1984 Indonesia dinyatakan mencapai swasembada beras, 20 tahun kemudian (2007) negara ini kembali berswasembada beras.
Tabel. 1. Produksi, luas panen dan produktivitas usahatani padi indonesia,
 2003 dan 2004
Parameter
2003
2004
Indonesia
Produksi (000 ton GKG)
Luas Panen (000 ha)
Produktivitas (kw/ha)

Jawa
Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha)
Produksi (kw/ha)

Luar Jawa
Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha) Produksi (kw/ha)

52.14
11.49
45.38


28.17
5.38
52.40


23.97
5.71
39.22

54.09
11.92
45.36


24.64
6.11
51.87


24.45
6.20
39.38
Sumber: BPS, 2005
Pulau Jawa perupakan pemberi kontribusi ter-besar dalam pengadaan produksi padi di Indonesia. Luas panen dan produksi di Jawa dapat mencapai masing-masing 46,8% dan 54%. Produksi padi di lahan sawah irigasi di Jawa sangat berdampak luas terhadap penyediaan pangan nasional. Namun, pulau Jawa tidak  dapat diandalkan sepenuhnya dalam peningkatan produksi padi nasional ke depan, terutama melalui cara perluasan lahan. Pulau Jawa cukup potensial melalui peningkatan produktivitas. Selain keterbatasan sumberdaya lahan, opportunity cost usahatani padi juga makin tinggi karena makin tajamnya kompetisi penggunaan lahan, terutama antara padi dengan komoditas lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi.
Inovasi Revolusi Hijau besar sumbangannya terhadap pengadaan produksi pangan nasional terutama beras, meskipun tidak berarti tanpa kekurangan pangan, terutama setelah terjadi ledakan hama penyakit dan anomali iklim. Pelajaran yang dapat ditarik dari implementasi Revolusi Hijau selama ini antara lain adalah besarnya sumbangan varietas unggul dan teknologi budidaya dalam peningkatan produksi padi, intensifikasi terlalu terfokus pada lahan sawah irigasi, tingginya penggunaan input, dan kurangnya perhatian terhadap pelestarian sumber daya alam.
B. Potensi Sumber Daya Lahan
Di Indonesia luas lahan yang dikembangkan untuk pertanian mencapai 24,5 juta ha di lahan basah (sawah) dan 76,3 juta ha di lahan kering. Luas lahan sawah dengan kelas sesuai untuk tanaman padi adalah 13,26 juta ha, 2,01 juta ha di antaranya terdapat di Sumatera, 1,12 juta ha di Jawa, 0,85 juta ha di Bali dan Nusa Tenggara, 1,03 juta ha di Kalimantan, 1,11 juta ha di Sulawesi, dan 7,89 juta ha di Maluku dan Papua. Dari 13,26 juta ha lahan sawah yang ada, baru 6,86 juta ha yang telah dimanfaatkan. Dengan demikian terdapat 6,4 juta ha lahan yang dapat dikembangkan untuk sawah. Namun perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut: investasi yang mungkin tinggi, kelanggengan fungsi lahan pertanian yang baru dibuka, ketersediaan tenaga kerja pertanian, dampak lingkungan atau perubahan ekosistem, degradasi lingkungan dan sebagainya, dan masih adanya alternative peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas.
Luas lahan rawa dan pasang surut yang sesuai untuk usahatani padi mrncakup 3,51 juta ha, yang tersebar di Sumatera (1,92 juta ha), Jawa (0,12 juta ha), Kalimantan (1,01 juta ha), Sulawesi (0,31 juta ha), Maluku dan Papua (3,51 juta ha). Hingga saat ini, lahan rawa pasang surut yang telah digunakan untuk sawah baru seluas 0,93 juta ha.
Lahan kering yang sesuai untuk tanaman padi diperkirakan seluas 25,33 juta ha. Potensi lahan kering belum dimanfaatkan secara optimal di daerah-daerah bagi pengembangan tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Hingga saat ini kontribusi padi gogo terhadap pengadaan produksi padi nasional baru mencapai 5-6%. Lahan kering seharusnya dapat mendukung upaya peningkatan produksi padi di Indonesia jika diolah dengan baik.
C. Potensi dan Prospek Inovasi Teknologi      
Di Indonesia telah dikembangkan berbagai teknologi yang dapat meningkatkan produksi padi nasional. Berbagai terobosan peningkatan produksi padi telah dilakukan di Indonesia. Pengguanaan dan penciptaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan penngkatan komponen teknologi budidaya diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi nasional.
Penelitian varietas unggul di Indonesia dapat dikatakan telah berjalan baik. Dalam periode 2000-2004, Balai Penelitian Tanaman Padi dari Badan Litbang Pertanian, menghasilkan 54 varietas unggul padi, 40 di antaranya untuk lahan sawah irigasi (termasuk 4 varietas unggul hibrida = VUH, dan 4 varietas unggul tipe baru = VUTB), 5 varietas untuk lahan kering (padi gogo), dan 9 varietas untuk lahan pasang surut. Berdasarkan masalah dan kendala produksi serta tuntutan pengguna, varietas-varietas unggul tersebut dapat di-kelompokkan menjadi dua, yaitu varietas yang dipergunakan dengan maksud meningkatkan produktivitas (VUH dan VUTB) dan varietas yang dipergunakan untuk stabilitas hasil, termasuk mutu rasa dan mutu gizi (varietas unggul spesifik, VUS).
Selain varietas unggul, dilakukan pula pengaplikasian teknologi di Indonesia. Beberapa tahun terakhir tingkat kesuburan sebagian lahan sawah irigasi menurun. Beberapa indikasinya ialah struktur tanah yang buruk, kandungan C-organik rendah, hara mikro dan kehidupan biologis juga rendah. Hal tersebut sebagai dampak dari sistem intensifikasi yang diterapkan selama ini. Untuk memperbaiki kualitas lahan dapat diupayakan melalui penggunaan bahan organik yang dikombinasikan dengan efisiensi input teknologi (umur bibit, jumlah bibit/lubang, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman, manajemen air dll) yang populer disebut model Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Model PTT diharapkan menjadi salah satu pilar Revolusi Hijau Lestari dalam meningkatkan produksi padi di masa mendatang.
D. Arah Pengembangan Produksi Padi Nasional
Tahun 2025 mendatang, Indonesia dituntut untuk mampu mencukupi minimal 95% dari kebutuhan beras nasional (swasembada). Tahun 2010, 2015, 2020, dan 2025, kebutuhan beras diperkirakan masing-masing sebesar 55,8 juta ton, 58,9 juta ton, 62,3 juta ton, dan 65,8 juta ton GKG. Impor beras diusahakan maksimal 5% dari kebutuhan tersebut. Usaha pemenuhan kebutuhan beras nasional hingga tahun 2025 akan ditempuh melalui dua cara: peningkatan produktivitas padi dan peningkatan areal panen padi melalui peningkatan intensitas tanam (IP), pengembangan di areal baru, termasuk sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan lahan bukaan baru.
Peningkatan produktivitas padi dapat diupayakan melalui (1) peningkatan hasil potensial dan aktual varietas melalui perbaikan genetik potensi hasil, ketahanan terhadap kendala biotik (hama dan penyakit), toleransi terhadap cekaman abiotik (kekeringan dan keracunan), dan perbaikan teknik budidaya menggunakan alat bantupenetapan teknologi spesifik lokasi (PTT yang diperbaiki, prescription farming); dan (2) percepatan inovasi teknologi melalui jaringan penelitan dan pengkajian, petak demonstrasi, pengembangan, sosialisasi, dan pendampingan. 
Keuntungan dari percepatan dan perluasan adopsi teknologi adalah: (1) peningkatan produksi lebih terjamin karena sifat lahan sudah dipahami petani; (2) penggunaan lahan lebih hemat sehingga lahan yang lain dapat digunakan untuk komoditas lainnya; (3) peluang peningkatan pendapatan petani lebih besar karena teknologi yang diterapkan sudah matang dan diyakini efektif meningkatkan hasil dan efisiensi, dan (4) usaha agribisnis lebih mudah karena daerah penerima adopsi umumnya telah memiliki infrastruktur yang memadai. Namun, strategi ini tidak menumbuhkan daerah pertanian baru atau kurangnya pemerataan pembangunan pertanian dan penyerapan tenaga kerja.
E. Strategi Peningkatan Padi Nasional
Strategi yang dapat ditempuh dalam meningkatkan produksi padi nasional adalah: (1) mendorong sinergi antarsubsistem agri-bisnis; (2) meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya, modal, teknologi, dan pasar; (3) mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi baru; (4) memberikan insentif berusaha; (5) men-dorong diversifikasi produksi; (6) mendorong partisipasi aktif seluruh stakeholder; (7) pemberdayaan petani dan masyarakat; (8) pengem-bangan kelembagaan (kelembagaan produksi dan penanganan pascapanen, irigasi, koperasi, lumbung pangan desa, keuangan dan penyuluhan).
F. Kebijakan Pengembangan Padi
Kebijakan pengembangan padi diarahkan pada: (1) pembangun-an dan pengembangan kawasan agribisnis padi yang modern, tangguh, dan pemberian jaminan kehidupan yang lebih baik bagi petani; (2) peningkatan efisiensi usahatani melalui inovasi unggul dan berdaya saing; (3) pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, efisien dan produktif serta berkelanjutan yang dapat mendukung ketahanan ekonomi dan pelestarian lingkungan;                                  (4) pemberdayaan petani dan masyarakat pedesaan; dan (5) pengembangan kelembagaan dan kemitraan yang modern, tangguh, efisien, dan produktif.
G. Program Peningkatan Hasil Produksi
Program yang dicanangkan meliputi (1) pengembangan sarana dan prasarana, (2) pengembangan sistem perbenihan, (3) akselerasi peningkatan produktivitas (intensifikasi), (4) perluasan areal tanam (ekstensifikasi),                       (5) pengembangan sistem perlindungan, (6) peng-olahan dan pemasaran hasil,                 (7) pengembangan kelembagaan, dan (8) pemantapan manajemen pembangunan pertanian.
E. Analisis Ekonomi Usahatani Padi
Soeharjo dan Patong (1973), menyatakan analisis pendapatan memiliki kegunaan bagi pemilik faktor produksi yaitu (1) menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan usaha, dan (2) menggambarkan keadaan yang akan datang dari suatu kegiatan usaha. Analisis pendapatan usahatani sendiri sangat bermanfaat bagi petani untuk dapat mengukur apakah kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak.
Menurut Hernanto (1991), pendapatan usahatani yang diperoleh petani belum cukup menggambarkan tingkat efisiensi. Diperlukan ukuran-ukuran untuk mengetahui tingkat efisiensi penghasilan usahatani diantaranya : (a) penghasilan kerja usahatani per setara Pria; (b) pendapatan per unit areal usahatani, dan (c) analisis imbangan penerimaan terhadap biaya.
Berikut adalah analisis ekonomi usahatani padi tahun 2012 :

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
       Prospek usaha penanaman padi di Indonesia sangat besar peluangnya. Upaya peningkatan produksi padi guna mempertahankan swa-sembada sampai tahun 2025 membutuhkan upaya peningkatan produksi padi guna mempertahankan swa-sembada sampai tahun 2025 membutuhkan investasi sebesar Rp.85,4 trilyun untuk pengembangan dan perluasan adopsi teknologi (varietas dan pendekatan budidaya). Dukungan kebijakan pemerintah terhadap pelaku agribisnis padi, baik masyarakat (petani) maupun swasta, akan mempercepat upaya peningkatan investasi.
Selain itu, sasaran produksi dan produk berbasis beras juga ditujukan untuk peningkatan kualitas, jenis, dan nilai gizi, selaras dengan dinamika permintaan dan preferensi konsumen yang makin beragam dan meningkat yang ditempuh melalui pendekatan perbaikan genetik maupun teknologi pascapanen.
Biaya produksi dalam usahatani terdiri dari Biaya tetap dan biaya variabel, Biaya yang dibayarkan dan biaya yang tidak dibayarkan, Biaya langsung dan biaya tidak langsung. Berdasarkan data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa Penerimaan total (Total Revenue /TR) usahatani padi dalam satu tahun adalah adalah sebesar Rp. 16.875.000. Total biayanya (TC) dalam satu tahun sebesar Rp 3.543.752. Pendapatan Total sebesar Profit (π) = TR – TC =Rp. 16.875.000 - Rp 3.543.752 = Rp. 13.331.248.


Wednesday, December 18, 2013

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM DAN TAHUNAN Prospek dan Bahan Tanam Karet (Hevea brasiliensis)

Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi FP UNS
I. PENDAHULUAN

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah tanaman tahunan, yang merupakan salah satu komoditi unggulan tanaman perkebunan. Industri perkebunan karet hanya cocok pada areal hutan hujan tropis, yang terletak antara 15o Lintang Selatan dan 15o Lintang Utara garis katulistiwa, yang memiliki kondisi tumbuh yang optimum. Pada habitat asalnya pohon karet (Hevea brasilliensis) tumbuh diantara kayu – kayu lain di hutan hujan tropis di Amazon-Brazil. Tetapi di Asia Tenggara, karet tumbuh pada perkebunan yang monokultur / sejenis.
Karet merupakan komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta tenaga kerja, komoditi ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan dengan nilai US$ 1.106 juta, namun pada tahun 2003 turun menjadi nomor dua setelah kelapa sawit dengan nilai US$ 1.494 juta (nilai ekspor minyak sawit mencapai US$ 2.417 juta). Di samping itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenis pajak dan pungutan perusahaan.
Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO2 dan penghasil O2, serta memberi fungsi orologis bagi wilayah di sekitarnya. Selain itu tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat menstubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam.
Indonesia merupakan negara dengan areal tanaman karet terluas di dunia. Pada tahun 2002, luas perkebunan karet Indonesia mencapai 3,318 juta ha, disusul Thailand (1,96 juta ha), Malaysia (1,54 juta ha), China (0,61 juta ha), India (0,56 juta ha), dan Vietnam (0,32 juta ha). Dari areal tersebut diperoleh produksi karet Indonesia sebesar 1,63 juta ton yang menempati peringkat kedua di dunia, setelah Thailand dengan produksi sekitar 2,35 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati India (0,63 juta ton), Malaysia (0,62 juta ton), China (0,45 juta ton), dan Vietnam (0,29 juta ton).
Pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan perlu didasarkan pada perencanaan yang lebih terarah dengan sasaran yang lebih jelas serta mempertimbangkan berbagai permasalahan, peluang dan tantangan yang sudah ada serta yang diperkirakan akan ada sehingga pada gilirannya akan dapat diwujudkan agribisnis karet yang berdaya saing dan berkelanjutan serta memberi manfaat optimal bagi para pelaku usahanya secara berkeadilan. Makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi dan acuan bagi para pelaku usaha, penentu kebijakan dan stakeholders lainnya yang terkait, baik langsung ataupun tidak langsung dalam mendukung Pengembangan Agribisnis Karet Indonesia ke depan.
Tabel 1. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Seluruh Indonesia menurut pengusahaan

Tahun

Luas Areal (Ha)


Produksi (Ton)












PR
PBN
PBS
Total
PR
PBN
PBS
Total











2001
2,838,421
221,876
284,470
3,344,767
1,209,284
182,578
215,599
1,607,461

2002
2,825,476
221,228
271,655
3,318,359
1,226,647
186,535
217,177
1,630,359

2003
2,772,490
241,625
275,997
3,290,112
1,396,244
191,699
204,405
1,792,348

2004
2,747,899
239,118
275,250
3,262,267
1,662,016
196,088
207,713
2,065,817

2005
2,767,021
237,612
274,758
3,279,391
1,838,670
209,837
222,384
2,270,891

2006
2,832,982
238,003
275,442
3,346,427
2,082,597
265,813
288,821
2,637,231

2007
2,899,679
238,246
275,792
3,413,717
2,176,686
277,200
301,286
2,755,172

2008
2,910,208
238,210
275,799
3,424,217
2,173,616
276,809
300,861
2,751,286

2009
2,911,533
239,375
284,362
3,435,270
1,942,298
238,656
259,393
2,440,347

2010*
2,934,378
236,714
274,029
3,445,121
2,065,178
252,408
274,349
2,591,935

2011**
2,935,081
239,132
275,931
3,450,144
2,104,952
259,973
275,924
2,640,849











Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2011

Keterangan / Note :  *) Sementara / Preliminary,   **) Estimasi / Estimation
Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui peremajaan atau penanaman baru karet yang cukup besar, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3,5 juta ton dan pada tahun 2035 sebesar 5,1 juta ton. Peremajaan atau penanaman baru karet dapat menghasilkan produksi yang tinggi jika dilakukan dengan teknologi budidaya seperti pemupukan, pemeliharaan yang tepat dan juga bahan tanam yang digunakan berasal dari benih unggul bermutu.

Penggunaan bahan tanam karet yang unggul merupakan modal utama dalam menentukan keberhasilan usaha perkebunan karet dalam hal ini mampu memberikan hasil lateks secara optimal di lapangan.Kesalahan dalam memilih bahan tanam, akan mengakibatkan kerugian yang akan dirasakan pekebun selama 25 tahun. Dalam pemilihan bahan tanaman harus dipertimbangkan secara cermat karena jika terdapat kekeliruan dalam pemilihan akan berdampak negatif terhadap perkebunan dan terhadap usaha karet alam nasional. Penggunaan bibit tidak bermutu akan berakibat :

a.    Tanaman yang tidak berkualitas memiliki heterogenitas tinggi, pertumbuhan lambat dan produktivitas rendah.
b.   Pemeliharaan yang optimal tetap tidak memberikan manfaat.
c.    Tidak ada sistem eksploitasi yang mampu memberikan hasil tinggi dalam jangka panjang secara konsisten. 
Benih  bermutu  dapat  berasal  dari  sumber  benih  yang  telah  diketahui cukup baik mutu benihnya, baik perorangan maupun perusahaan. Mata okulasi yang terjamin mutunya dapat diperoleh dari kebun entres yang telah dimurnikan dan dijaga perawatannya.


II. PEMBAHASAN

A. Prospek Tanaman Karet di Indonesia
Potensi perkebunan karet di Indonesia memiliki prospek yang cerah. Hal itu didukung dari luas lahan 3,4 juta hektar, perkebunan karet Indonesia didaulat sebagai yang terluas di dunia lalu diikuti Thailand, China dan Malaysia. Tanaman karet merupakan komoditas perkebunan penting di Indonesia. Hal ini tercermin dari nilai ekspor yang diberikan, yaitu mencapai 1,2 milyar US $ pada tahun 2001. Di sampmg nilai ekspornya, komoditaskaret juga berkontribusi terhadap sumber mata pencaharian lebih dari 1,75 juta keluarga petani Indonesia di areal sentra produksi saja. Prospek tanaman karet di masa depan masih sangat baik, karena berkembangnya industri berbasis karet di China sehingga permintaan karet alam terus meningkat. Hal ini terbukti dari naiknya harga karet dari 0,60 US $ per kg menjadi 1,2 US $ per kg sejak akhir tahun 2003, hingga saat ini mencapai 1.6 US $ per kg. Pada tahun 2020 diperkirakan China akan memerlukan sekitar 4 juta ton karet alam.
Potensi yang ada saat ini merupakan peluang bagi industri karet nasional untuk terus berproduksi maksimal. Prospek industri karet ke depan cukup baik sejalan dengan bergesernya konsumsi karet dunia dari Eropa dan Amerika ke Asia (terutama Cina dan India).Peluang ini harus dapat ditangkap oleh industri keret indonesia.
Peningkatan permintaan terhadap karet alam membuka peluang yang sangat baik bagi Indonesia untuk memngkatkan produksinya. Dibandingkan dengan Malaysia, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk meningkatkan produksi karet alam tersebut karena Malaysia dihadapkan pada masalah keterbatasan tahan dan mahalnya upah tenaga kerja. Pada tahun 2002, Indonesia tercatat memiliki lahan karet seluas 3,3 juta hektar, tetapi tingkat produktivitas rata-rata masih rendah yaitu 600 – 650 kg karet kering/ha/tahun.
Sayangnya, meski memiliki lahan terluas di dunia, produktivitas karet di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Thailand dan Malaysia. Di Indonesia, produksi karet per tahun sebesar 2,7 juta ton. Dari sisi produktivitasnya, Indonesia baru mencapai 1 ton/ha, sementara Malayasia 1,3 ton/ha,dan Thailand 1,9 ton/ha. Sementara dari segi penyerapan tenaga kerja,di sektor on farm sekitar 2,1 juta orang,sedangkan di sektor off farm sekitar 100 ribu orang.
Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (+ 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.
Prospek bisnis penyediaan bahan tanam karet ke depan cukup menjanjikan, karena pasarnya masih sangat terbuka dan potensi keuntungan yang dapat diraih oleh penangkar cukup memadai. Sebagai gambaran, tingkat B/C ratio pengusahaan bahan tanam karet dalam polibeg minimal 1,5. Harga bahan tanam karet unggul dalam polibeg (1-2 payung) saat ini di tingkat penangkar adalah sekitar Rp.2.500 - Rp 3.500 yang bervariasi menurut jenis klonnya.
Pada sisi lain, kayu karet yang ada saat ini baru sebagian kecil dimanfaatkan untuk kayu olahan, papan partikel dan papan serat. Hal ini terjadi karena lokasi pabrik pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga proporsi biaya transportasi menjadi tinggi (> 50% dari harga jual petani). Oleh karena itu, harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik bagi petani. Dengan penataan kelembagaan yang lebih baik, kayu karet rakyat merupakan potensi yang sangat besar dalam agribisnis karet.
Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagai jenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS, SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang karet. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut saluran pemasaran (market channel). Pengelompokan yang umum dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1) ban dan produk terkait serta ban dalam, (2) barang jadi karet untuk industri, (3) kemiliteran, (4) alas kaki dan komponennya, (5) barang jadi karet untuk penggunaan umum dan (6) kesehatan dan farmasi.
Pemanfaatan karet alam di luar industri ban kendaraan masih relatif kecil, yakni kurang dari 30 persen. Selain itu industri karet di luar ban umumnya dalam skala kecil atau menengah. Sementara itu industri berbasis lateks pada saat ini nampaknya belum berkembang karena banyak menghadapi kendala. Kendala utama adalah rendahnya daya saing produk-produk industri lateks Indonesia bila dibandingkan dengan produsen lain terutama Malaysia.
Volume impor karet alam ke Indonesia relatif sangat kecil, dan terbatas dalam bentuk lateks pekat yang dibutuhkan oleh industri barang jadi lateks dalam negeri. Sementara itu volume ekspor karet alam mencapai lebih dari 90% dari total produksi karet nasional dengan negara tujuan utama USA, China, Singapura, Jepang dan Jerman, sedangkan sisanya (7-10%) diserap oleh industri dalam negeri. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan dengan Malaysia, dimana industri hilir di dalam negeri mampu menyerap sekitar 70% dari total produksi negara tersebut. Rendahnya konsumsi karet alam domestik mencerminkan belum berkembangnya industri hilir yang berbasis karet alam. Hal ini mengakibatkan perolehan nilai tambah komoditi karet masih relatif rendah.
Dalam aspek produksi, Indonesia memiliki kemampuan bersaing, terutama dalam segmen produksi bahan olah karet (bokar) dibanding dengan negara-negara produsen utama karet alam lainnya. Pada tingkat harga di bawah US $ 0,8 per kg, Malaysia sudah tidak mampu menutupi ongkos produksi (taping-cost) karet alamnya dan Thailand sudah pada tingkat mendekati rugi. Sedangkan Indonesia pada level harga seperti ini, masih mampu memproduksi karet alam secara menguntungkan. Indonesia merupakan negara penghasil karet alam dengan tingkat daya saing tertinggi jika dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia.
Potensi hasil agribisnis karet yang perlu segera dieksplorasi saat ini dan ke depan adalah kayu karet, untuk mengantisipasi permintaan kayu di tingkat domestik dan dunia yang terus meningkat. Pada kenyataannya, kebutuhan kayu bulat total dunia per tahun terus meningkat. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi dari hutan alam yang ada sekarang karena adanya penurunan areal hutan, eksploitasi kayu hutan yang berlebihan dan tidak diikuti dengan program reboisasi yang berkesinambungan.
Arah pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal sebagai berikut :

1. Permintaan karet alam dunia ke depan akan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dunia, semakin mahalnya  bahan  baku karet  sintetis,  dan  meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan.
2. Produksi karet di Malaysia diperkirakan akan terus mengalami penurunan karena kebijakan pemerintahnya lebih berkonsentrasi pada industri hilir dan juga telah mengalihkan sebagian areal tanaman karet menjadi areal kelapa sawit.
3. Thailand diperkirakan akan menghadapi banyak kendala dalam upaya peningkatan karet alamnya karena keterbatasan ketersediaan lahan pengembangan yang berlokasi di wilayah bagian utara dengan kondisi marginal sehingga produktivitasnya lebih rendah serta keterbatasan dalam jumlah tenaga kerja.
Untuk mencapai kondisi agribisnis karet yang berdaya saing tinggi dan posisi Indonesia sebagai negara penghasil karet dan produk karet terbesar di dunia tersebut diperlukan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
1. On-farm
Upaya yang ditempuh adalah meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan karet melalui:
a. Penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai produktivitas lateks potensial lebih dari 3.000 kg/ha/th, dan menghasilkan produktivitas kayu karet lebih dari 300 m3/ha/siklus.
b. Percepatan peremajaan karet tua dan tidak produktif terutama pada perkebunan karet rakyat (peningkatan adopsi klon dari 40% pada tahun 2004 menjadi 55% pada tahun 2009, dan meningkat menjadi 85% pada tahun 2025), yang terutama direalisasikan melalui gerakan peremajaan tanaman karet rakyat seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan seluas 1,2 juta ha sampai dengan tahun 2025.
c. Diversifikasi usahatani karet melalui integrasi dengan tanaman pangan dan ternak untuk peningkatan pendapatan keluarga tani.
d. Peningkatan efisiensi usaha pada setiap tahap proses produksi untuk menjamin marjin keuntungan dan daya saing yang tinggi.
2. Off-farm
Di bidang off-farm upaya yang ditempuh untuk meningkatkan mutu, nilai tambah dan pendapatan petani adalah melalui:
a. Peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan petani sesuai dengan SNI bokar yang disyaratkan oleh industri pengolahan.
b. Peningkatan efisiensi pemasaran bokar dan penguatan kelembagaan petani untuk mencapai bagian harga yang diterima petani minimal 75% dari harga FOB pada tahun 2009 dan 80% pada tahun 2025. Penyediaan Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terkait dengan peremajaan karet dan pengembangan usaha bersama dalam kegiatan pengolahan dan pemasaran.
c. Pengembangan infrastruktur yang menunjang pengembangan produksi dan pengolahan barang jadi karet.
d. Peningkatan nilai tambah produk melalui pengembangan industri hilir yang ramah lingkungan yang dicerminkan melalui peningkatan daya serap bokar minimal 10% dari produksi pada tahun 2009, dan minimal 25% pada tahun 2025.
e. Peningkatan pendapatan petani mencapai sekitar US$1.500 pada tahun 2009 dan US$ 2.000 pada tahun 2025 melalui berbagai upaya peningkatan hasil usahatani (perbaikan sistem produksi, pengolahan dan pemasaran), dan penciptaan usaha industri kecil dan menengah pedesaan.

B. BAHAN TANAM
Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah bibit/bahan tanam, dalam hal ini bahan tanam yang baik adalah yang berasal dari tanaman karet okulasi. Persiapan bahan tanam dilakukan paling tidak 1,5 tahun sebelum penanaman. Dalam hal bahan tanam ada tiga komponen yang perlu disiapkan,yaitu: batang bawah (root stock), entres/batang atas (budwood), dan okulasi (grafting) pada penyiapan bahan tanam.
Untuk mendapatkan bahan tanam yang ungggul dan bermutu, yaitu hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang baik, pada dasarnya mata okulasi dapat diambil dari dua sumber, yaitu berupa entres cabang dari kebun produksi atau entres dari kebun entres. Dari dua macam sumber mata okulasi ini sebaiknya dipilih entres dari kebun entres murni, karena entres cabang akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah.
Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul. Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum mini, bibit dalam polibeg, atau stum tinggi. Untuk tanaman karet, mata entres ini yang merupakan bagian atas dari tanaman dan dicirikan oleh klon yang digunakan sebagai batang atasnya.
Untuk memperoleh mata entres yang bermutu, dapat diperoleh dari tanaman karet dengan klon – klon yang sudah direkomendasikan dan sudah menjadi benih bina. Berdasarkan rumusan lokakarya nasional pemuliaan tanaman karet tahun 2005, klon - klon karet yang direkomendasikan untuk periode tahun 2006 - 2010 terdiri atas dua kelompok , yaitu klon anjuran komersil dan klon harapan. Kelompok klon anjuran komersil merupakan sekelompok klon yang telah diuji dan dapat dikembangkan oleh pengguna (petani dll). Sedangkan klon harapan merupakan klon yang mempunyai potensi pertumbuhan dan produksi tinggi tetapi belum berupa benih bina. Contoh klon harapan IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 64, IRR 105, IRR 107, IRR 111, IRR 119, IRR 141, IRR 208, IRR 211, IRR 220.
Klon Anjuran Komersial :
1.      Klon penghasil lateks : klon yang mempunyai potensi hasil lateks sangat tinggi tetapi hasil kayunya sedang. Contoh : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260.
2.      Klon penghasil kayu : klon yang memiliki cirri potensi lateks yang rendah namun memiliki hasil kayu yang tinggi. Contoh : BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR 118.
3.      Klon penghasil lateks-kayu : klon yangmemiliki potensi hasil lateks yang tinggi dan hasil kayunya juga tinggi. Contoh : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78.
Agar kebutuhan benih unggul dapat berhasil, maka perlu didukung dengan ketersediaan Kebun Sumber Benih Karet. Maka kebun-kebun entres yang ada sebagai sumber benih batang atas perlu dilakukan pemurnian. Kebun entres merupakan tempat mengkoleksi material genetiksebagai sumber mata tunas yang akan tumbuh sebagai batang atastempat lateks diperoleh.
Sebagaimana disebutkan di atas maka kegiatan pemurnian kebun entres harus dilakukan sebelum pemanenan entres dilakukan. Pemurnian dilakukan oleh tenaga yang terlatih dalam mengenal ciri-ciri setiap klon karet harus sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan. Sebagai persyaratan sebelum melakukan pemurnian kebun entres adalah sebagai berikut:
1. Kebun entres dikelola sesuai dengan standar baku dalam pengelolaan kebun entres

2. Penanaman antar klon karet dalam petakan-petakan yang terpisah

3. Umur kebun entres antara 8-12 bulan atau minimal 3-4 payung dan belum pernah dipanen

4. Kebun entres dalam kondisi sehat, tidak terserang penyakit daun

5. Kebun entres bersih dari gulma

6. Kebun entres tidak terlindung/ternaung
Sedangkan untuk persyaratan kebun entres karet dimulai dari tanah dan kebun, rancangan pertanaman kebun entres, lokasi kebun, pemeliharaan dan pemurnian kebun entres secara rinci seperti dibawah ini:


No.
Tolok Ukur
Persyaratan



1
Rancangan pertanaman


kebun entres:


a. Jarak tanam
1 x 1 m

b. Jarak antar klon
Minimal 2 m

c. Pola tanam
Batas antar klon jelas

d. Jenis klon
Klon anjuran (benih bina)

e. Umur tanaman
< 20 tahun



2
Lokasi kebun


a. Drainase
Baik

b. Topografi
Datar s/d bergelombang (< 15º)

c. Lokasi
Mudah dijangkau



3
Kondisi tanaman


a. Gulma
Terkendali

b. Pertumbuhan
Baik dan seragam

c. Kesehatan
Bebas gangguan hama dan penyakit utama



4
Mutu Genetis
Sebelum digunakan harus dimurnikan oleh tenaga


yang berkompeten untuk mencapai tingkat


kemurnian 100 %
5
Mutu Fisiologis


a. Mutu pertumbuhan
Baik dan segar

b. pemangkasan dan
Dilakukan pemangkasan secara

percabangan
regular dan dipelihara maksimal 3 cabang/pohon


untuk entres coklat dan maksimal 10 cabang /


pohon entres hijau
Ketidakmurnian yang terjadi pada kebun entres akan terbawa pada penyebaran bahan tanam / benih yang dihasilkan. Terjadinya ketidakmurnian klon karet pada kebun entres dikarenakan oleh hal-hal sebagai berikut:

a. Tunas yang tumbuh berasal dari batang bawah bukan dari mata okulasi yang ditempelkan. Hal ini terjadi bila bibit yang digunakan adalah stum mata tidur dan pembuangan tunas palsu terlambat atau kurang cermat waktu memilih bibit. Tanaman demikian tergolong semaian yang harus dibuang dan disulam dengan menggunakan bibit klonal yang sesuai.

b. Tercampurnya bibit beberapa klon pada saat penanaman sebagai akibat dari :

1)        Kesalahan waktu okulasi di pembibitan pada saat penyiapan bibit untuk kebun entres

2)        Entres yang digunakan untuk penyiapan bibit untuk kebun entres tidak murni

3)        Tercampurnya klon pada saat bongkar bibit

4)        Sumber bibit untuk pembangunan kebun entres tidak jelas asal-

usulnya.

Mutu fisik batang atas / entres juga menyangkut kesegaran kayu okulasi. Kayu okulasi sebagai sumber mata okulasi sebaiknya segera dipakai setelah pemotongan dari tanaman induknya. Mata tunas yang baik adalah yang berasal dari kebun entres yang sehat, umurnya hampir sama dengan umur bibit batang bawah dan jenis mata untuk okulasi coklat (umur batang bawah ≥ 7 bulan dan berwarna coklat) adalah mata ketiak daun. Standar mutu mata okulasi atau entres ialah :

a.  Berasal dari kebun entres yang terawat baik sesuai anjuran
b. Umur kayu okulasi setelah penyerongan kurang dari 3 hari dan jaringan masih segar
c. Berasal dari klon anjuran komersial dengan kemurnian 100%
Mata tunas yang berasal dari ketiak daun digunakan untuk okulasi coklat (umur batang bawah ≥ 7 bulan dan berwarna coklat) dan mata sisik yang berasal dari daun yang rudimenter digunakan untuk okulasi tanaman muda (3-4 bulan).


III. KESIMPULAN
Prospek tanaman karet di Indonesia bagus untuk ke depannya karena banyak peluang dalam pemanfaatan karet untuk kebutuham manusia sehingga budidaya tanaman karet yang efektif dapat meningkatkan pendapatan. Bibit karet yang unggul dan bermutu dapat diperoleh dari kebun entres yang memenuhi standar teknis kebun entres karet dan sudah dilakukan pemurnian kebun entres karet sesuai dengan standar yang berlaku. Dengan adanya kebun entres karet diharapkan bibit karet yang bermutu dapat dihasilkan guna memenuhi kebutuhan bibit yang bermutu untuk mendukung program pemerintah dalam revitalisasi kebun karet di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C.2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.
Aidi. 1995. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian Sembawa. Palembang.
Deptan., 2006. Basis Data Statistik Pertanian (http://www.database.deptan.go.id/). Diakses tanggal 5 Mei 2009.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Para_(pohon), diakses 11 November 2013
Maryadi., 2005. Manajemen Agrobisnis Karet. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Nazaruddin dan F.B. Paimin., 1998. Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, T.H.S., 1995. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius, Yogyakarta.
Suhendry, I., 2002. Kajian finansial penggunaan klon karet unggul generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet. 21 : 1- 3

Disusun Oleh :
Adi Aribowo                        (H0712002)
Adib Fauzan Rahman        (H0712004)
Andi Susilo Nugroho           (H0712022)