Showing posts with label TBT. Show all posts
Showing posts with label TBT. Show all posts

Wednesday, September 24, 2014

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA SEMUSIM DAN TAHUNAN Prospek dan Bahan Tanam Padi (Oryza sativa)

Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini dan pada tahun-tahun mendatang, beras masih akan menjadi sumber pangan sebagian besar penduduk Indonesia. Untuk mencapai kemandirian pangan hingga tahun 2005 Indonesia membutuhkan 34 juta ton beras atau setara dengan 54 juta ton GKG/tahun. Meski program diversifikasi pangan sudah sejak lama dicanangkan, tetapi belum juga terlihat tanda penurunan konsumsi beras, bahkan cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Pengembangan dan peningkatan produksi beras nasional mutlak diperlukan dengan sasaran utama pencapaian swasembada pangan dan kesejahteraan petani. Kenyataan menunjukkan bahwa produksi padi nasional sejak tahun 1970 hingga 2004 meningkat hampir tiga kali lipat. Hal ini tentu terkait dengan peningkatan produktivitas dan luas areal tanam. Kebutuhan beras di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat sehingga prospek tanaman padi di Indonesia cukup bagus. Keberhasilan upaya peningkatan produksi padi nasional tidak terlepas pula dari implementasi berbagai program intensifikasi yang didukung oleh inovasi teknologi pancausahatani, terutama varietas unggul dan teknologi budi daya, rekayasa kelembagaan, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Kebutuhan pangan nasional sebenarnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor. Namun karena jumlah penduduk terus bertambah dan tersebar di banyak pulau maka ketergantungan akan pangan impor menyebabkan rentannya ketahanan pangan sehingga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Usahatani padi sudah memberikan kesempatan kerja dan pendapatan bagi lebih dari 21 juta rumah tangga dengan sumbangan pendapatan 25-35%. Oleh karena itu, beras tetap menjadi komoditas strategis dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional ke depannya.

B. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini untuk mengetahui prospek tanaman padi di Indonesia dan menganalisa ekonomi petani tanaman padi di Indonesia.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan menjadi dasar pembahasan makalsah ini adalah sebagai  berikut :
1. Bagaimana kondisi argribisnis padi di Indonesia?
2. Bagaimana prospek, potensi dan arah pengembangan padi di Indonesia?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Prospek Padi di Indonesia
Laju peningkatan produktivitas padi di Indonesia cukup tinggi yang mencapai 1,0% per tahun, tetapi disamping itu luas panen turun 0,9% per tahun (Tabel 1). Indeks panen (IP) diketahui pula menurun, dari 1,56 ditahun 2002 menjadi 1,43 di tahun 2003. Penurunan IP menggambarkan bahwa usahatani padi mulai tersaing dengan usahatani komoditas selain padi yang lebih menguntungkan. Pada tahun 2004, produksi padi mencapai 54,09 juta ton, ini berarti naik 3,74% dari tahun sebelumnya. Walaupun demikian setelah tahun 1984 Indonesia dinyatakan mencapai swasembada beras, 20 tahun kemudian (2007) negara ini kembali berswasembada beras.
Tabel. 1. Produksi, luas panen dan produktivitas usahatani padi indonesia,
 2003 dan 2004
Parameter
2003
2004
Indonesia
Produksi (000 ton GKG)
Luas Panen (000 ha)
Produktivitas (kw/ha)

Jawa
Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha)
Produksi (kw/ha)

Luar Jawa
Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha) Produksi (kw/ha)

52.14
11.49
45.38


28.17
5.38
52.40


23.97
5.71
39.22

54.09
11.92
45.36


24.64
6.11
51.87


24.45
6.20
39.38
Sumber: BPS, 2005
Pulau Jawa perupakan pemberi kontribusi ter-besar dalam pengadaan produksi padi di Indonesia. Luas panen dan produksi di Jawa dapat mencapai masing-masing 46,8% dan 54%. Produksi padi di lahan sawah irigasi di Jawa sangat berdampak luas terhadap penyediaan pangan nasional. Namun, pulau Jawa tidak  dapat diandalkan sepenuhnya dalam peningkatan produksi padi nasional ke depan, terutama melalui cara perluasan lahan. Pulau Jawa cukup potensial melalui peningkatan produktivitas. Selain keterbatasan sumberdaya lahan, opportunity cost usahatani padi juga makin tinggi karena makin tajamnya kompetisi penggunaan lahan, terutama antara padi dengan komoditas lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi.
Inovasi Revolusi Hijau besar sumbangannya terhadap pengadaan produksi pangan nasional terutama beras, meskipun tidak berarti tanpa kekurangan pangan, terutama setelah terjadi ledakan hama penyakit dan anomali iklim. Pelajaran yang dapat ditarik dari implementasi Revolusi Hijau selama ini antara lain adalah besarnya sumbangan varietas unggul dan teknologi budidaya dalam peningkatan produksi padi, intensifikasi terlalu terfokus pada lahan sawah irigasi, tingginya penggunaan input, dan kurangnya perhatian terhadap pelestarian sumber daya alam.
B. Potensi Sumber Daya Lahan
Di Indonesia luas lahan yang dikembangkan untuk pertanian mencapai 24,5 juta ha di lahan basah (sawah) dan 76,3 juta ha di lahan kering. Luas lahan sawah dengan kelas sesuai untuk tanaman padi adalah 13,26 juta ha, 2,01 juta ha di antaranya terdapat di Sumatera, 1,12 juta ha di Jawa, 0,85 juta ha di Bali dan Nusa Tenggara, 1,03 juta ha di Kalimantan, 1,11 juta ha di Sulawesi, dan 7,89 juta ha di Maluku dan Papua. Dari 13,26 juta ha lahan sawah yang ada, baru 6,86 juta ha yang telah dimanfaatkan. Dengan demikian terdapat 6,4 juta ha lahan yang dapat dikembangkan untuk sawah. Namun perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut: investasi yang mungkin tinggi, kelanggengan fungsi lahan pertanian yang baru dibuka, ketersediaan tenaga kerja pertanian, dampak lingkungan atau perubahan ekosistem, degradasi lingkungan dan sebagainya, dan masih adanya alternative peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas.
Luas lahan rawa dan pasang surut yang sesuai untuk usahatani padi mrncakup 3,51 juta ha, yang tersebar di Sumatera (1,92 juta ha), Jawa (0,12 juta ha), Kalimantan (1,01 juta ha), Sulawesi (0,31 juta ha), Maluku dan Papua (3,51 juta ha). Hingga saat ini, lahan rawa pasang surut yang telah digunakan untuk sawah baru seluas 0,93 juta ha.
Lahan kering yang sesuai untuk tanaman padi diperkirakan seluas 25,33 juta ha. Potensi lahan kering belum dimanfaatkan secara optimal di daerah-daerah bagi pengembangan tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Hingga saat ini kontribusi padi gogo terhadap pengadaan produksi padi nasional baru mencapai 5-6%. Lahan kering seharusnya dapat mendukung upaya peningkatan produksi padi di Indonesia jika diolah dengan baik.
C. Potensi dan Prospek Inovasi Teknologi      
Di Indonesia telah dikembangkan berbagai teknologi yang dapat meningkatkan produksi padi nasional. Berbagai terobosan peningkatan produksi padi telah dilakukan di Indonesia. Pengguanaan dan penciptaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan penngkatan komponen teknologi budidaya diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi nasional.
Penelitian varietas unggul di Indonesia dapat dikatakan telah berjalan baik. Dalam periode 2000-2004, Balai Penelitian Tanaman Padi dari Badan Litbang Pertanian, menghasilkan 54 varietas unggul padi, 40 di antaranya untuk lahan sawah irigasi (termasuk 4 varietas unggul hibrida = VUH, dan 4 varietas unggul tipe baru = VUTB), 5 varietas untuk lahan kering (padi gogo), dan 9 varietas untuk lahan pasang surut. Berdasarkan masalah dan kendala produksi serta tuntutan pengguna, varietas-varietas unggul tersebut dapat di-kelompokkan menjadi dua, yaitu varietas yang dipergunakan dengan maksud meningkatkan produktivitas (VUH dan VUTB) dan varietas yang dipergunakan untuk stabilitas hasil, termasuk mutu rasa dan mutu gizi (varietas unggul spesifik, VUS).
Selain varietas unggul, dilakukan pula pengaplikasian teknologi di Indonesia. Beberapa tahun terakhir tingkat kesuburan sebagian lahan sawah irigasi menurun. Beberapa indikasinya ialah struktur tanah yang buruk, kandungan C-organik rendah, hara mikro dan kehidupan biologis juga rendah. Hal tersebut sebagai dampak dari sistem intensifikasi yang diterapkan selama ini. Untuk memperbaiki kualitas lahan dapat diupayakan melalui penggunaan bahan organik yang dikombinasikan dengan efisiensi input teknologi (umur bibit, jumlah bibit/lubang, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman, manajemen air dll) yang populer disebut model Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Model PTT diharapkan menjadi salah satu pilar Revolusi Hijau Lestari dalam meningkatkan produksi padi di masa mendatang.
D. Arah Pengembangan Produksi Padi Nasional
Tahun 2025 mendatang, Indonesia dituntut untuk mampu mencukupi minimal 95% dari kebutuhan beras nasional (swasembada). Tahun 2010, 2015, 2020, dan 2025, kebutuhan beras diperkirakan masing-masing sebesar 55,8 juta ton, 58,9 juta ton, 62,3 juta ton, dan 65,8 juta ton GKG. Impor beras diusahakan maksimal 5% dari kebutuhan tersebut. Usaha pemenuhan kebutuhan beras nasional hingga tahun 2025 akan ditempuh melalui dua cara: peningkatan produktivitas padi dan peningkatan areal panen padi melalui peningkatan intensitas tanam (IP), pengembangan di areal baru, termasuk sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan lahan bukaan baru.
Peningkatan produktivitas padi dapat diupayakan melalui (1) peningkatan hasil potensial dan aktual varietas melalui perbaikan genetik potensi hasil, ketahanan terhadap kendala biotik (hama dan penyakit), toleransi terhadap cekaman abiotik (kekeringan dan keracunan), dan perbaikan teknik budidaya menggunakan alat bantupenetapan teknologi spesifik lokasi (PTT yang diperbaiki, prescription farming); dan (2) percepatan inovasi teknologi melalui jaringan penelitan dan pengkajian, petak demonstrasi, pengembangan, sosialisasi, dan pendampingan. 
Keuntungan dari percepatan dan perluasan adopsi teknologi adalah: (1) peningkatan produksi lebih terjamin karena sifat lahan sudah dipahami petani; (2) penggunaan lahan lebih hemat sehingga lahan yang lain dapat digunakan untuk komoditas lainnya; (3) peluang peningkatan pendapatan petani lebih besar karena teknologi yang diterapkan sudah matang dan diyakini efektif meningkatkan hasil dan efisiensi, dan (4) usaha agribisnis lebih mudah karena daerah penerima adopsi umumnya telah memiliki infrastruktur yang memadai. Namun, strategi ini tidak menumbuhkan daerah pertanian baru atau kurangnya pemerataan pembangunan pertanian dan penyerapan tenaga kerja.
E. Strategi Peningkatan Padi Nasional
Strategi yang dapat ditempuh dalam meningkatkan produksi padi nasional adalah: (1) mendorong sinergi antarsubsistem agri-bisnis; (2) meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya, modal, teknologi, dan pasar; (3) mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi baru; (4) memberikan insentif berusaha; (5) men-dorong diversifikasi produksi; (6) mendorong partisipasi aktif seluruh stakeholder; (7) pemberdayaan petani dan masyarakat; (8) pengem-bangan kelembagaan (kelembagaan produksi dan penanganan pascapanen, irigasi, koperasi, lumbung pangan desa, keuangan dan penyuluhan).
F. Kebijakan Pengembangan Padi
Kebijakan pengembangan padi diarahkan pada: (1) pembangun-an dan pengembangan kawasan agribisnis padi yang modern, tangguh, dan pemberian jaminan kehidupan yang lebih baik bagi petani; (2) peningkatan efisiensi usahatani melalui inovasi unggul dan berdaya saing; (3) pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, efisien dan produktif serta berkelanjutan yang dapat mendukung ketahanan ekonomi dan pelestarian lingkungan;                                  (4) pemberdayaan petani dan masyarakat pedesaan; dan (5) pengembangan kelembagaan dan kemitraan yang modern, tangguh, efisien, dan produktif.
G. Program Peningkatan Hasil Produksi
Program yang dicanangkan meliputi (1) pengembangan sarana dan prasarana, (2) pengembangan sistem perbenihan, (3) akselerasi peningkatan produktivitas (intensifikasi), (4) perluasan areal tanam (ekstensifikasi),                       (5) pengembangan sistem perlindungan, (6) peng-olahan dan pemasaran hasil,                 (7) pengembangan kelembagaan, dan (8) pemantapan manajemen pembangunan pertanian.
E. Analisis Ekonomi Usahatani Padi
Soeharjo dan Patong (1973), menyatakan analisis pendapatan memiliki kegunaan bagi pemilik faktor produksi yaitu (1) menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan usaha, dan (2) menggambarkan keadaan yang akan datang dari suatu kegiatan usaha. Analisis pendapatan usahatani sendiri sangat bermanfaat bagi petani untuk dapat mengukur apakah kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak.
Menurut Hernanto (1991), pendapatan usahatani yang diperoleh petani belum cukup menggambarkan tingkat efisiensi. Diperlukan ukuran-ukuran untuk mengetahui tingkat efisiensi penghasilan usahatani diantaranya : (a) penghasilan kerja usahatani per setara Pria; (b) pendapatan per unit areal usahatani, dan (c) analisis imbangan penerimaan terhadap biaya.
Berikut adalah analisis ekonomi usahatani padi tahun 2012 :

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
       Prospek usaha penanaman padi di Indonesia sangat besar peluangnya. Upaya peningkatan produksi padi guna mempertahankan swa-sembada sampai tahun 2025 membutuhkan upaya peningkatan produksi padi guna mempertahankan swa-sembada sampai tahun 2025 membutuhkan investasi sebesar Rp.85,4 trilyun untuk pengembangan dan perluasan adopsi teknologi (varietas dan pendekatan budidaya). Dukungan kebijakan pemerintah terhadap pelaku agribisnis padi, baik masyarakat (petani) maupun swasta, akan mempercepat upaya peningkatan investasi.
Selain itu, sasaran produksi dan produk berbasis beras juga ditujukan untuk peningkatan kualitas, jenis, dan nilai gizi, selaras dengan dinamika permintaan dan preferensi konsumen yang makin beragam dan meningkat yang ditempuh melalui pendekatan perbaikan genetik maupun teknologi pascapanen.
Biaya produksi dalam usahatani terdiri dari Biaya tetap dan biaya variabel, Biaya yang dibayarkan dan biaya yang tidak dibayarkan, Biaya langsung dan biaya tidak langsung. Berdasarkan data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa Penerimaan total (Total Revenue /TR) usahatani padi dalam satu tahun adalah adalah sebesar Rp. 16.875.000. Total biayanya (TC) dalam satu tahun sebesar Rp 3.543.752. Pendapatan Total sebesar Profit (π) = TR – TC =Rp. 16.875.000 - Rp 3.543.752 = Rp. 13.331.248.


Tuesday, April 30, 2013

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN Perkembangan Pertanian di Indonesia

Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertanian adalah merupakan salah satu usaha yang bisa menunjang kehidupan masyarakat dalam kehidupannya yang saat ini memang telah banyak digeluti oleh masyarakat kecil maupun masyarakat tingkat sedang. Namun, sebagian besar masyarakat kecil masih terhambat oleh kurangnya pengembangan teknologi yang memang sangat dibutuhkan sekarang sebagai pembantu dalam mengelolah lahan petanian maupun hasil-hasil pertanian. Keterbatasan inilah yang sekarang menjadi bahan untuk dipecahkan bersama-sama guna membantu para petani dalam mengembangkan usahanya dalam bertani.
Kemudian selain dari pada itu, pengembangan teknologi juga dibutuhkan sebagai pembaruan dari usaha tani tradisional guna lebih meningkatkan lagi produktivitas hasil pertanian. Usaha yang telah dilakukan dalam mengembangkan usaha tani juga memang penting karena pengembangan teknologi dalam bidang usaha pertanian ditujukan agar dapat membantu para petani dalam mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi sebagaimana yang diharapkan oleh semua petani.
Pengembangan teknologi dalam bidang pertanian tentunya harus dilakukan dengan memperhatikan sistem pertanian yang digunakan yang didalamnya mencakup berbagai macam cara dalam mengembangkan hasil pertaian selain daripada teknologi. Pengetahuan yang seperti ini seharusnya menjadi modal utama dalam mengembangkan usaha tani apabila kita ingin mendapatkan keuntugan yang besar. Hal-hal yang seperti inilah yang seharusnya petani perhatikan terlebih dahulu ketika ingin memulai usaha tani agar tidak mendatangkan kerugian. Selain itu, peran pemerintah juga dibutuhkan guna memberi pengetahuan berupa sosialisasi ketika ada pengembangan metode pertanian maupun pengembangan alat-alat pertaian yang dapat membantu megurangi beban para petani.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah perkembangan teknologi pertanian yang ada di Indonesia?
2. Bagaimanakah perkembangan sistem pertanian di Indonesia?
3. Bagaimanakah perkembangan pembangunan pertanian di Indonesia?




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agronomi dan Ruang Lingkup Agronomi
       Agronomi dapat diistilahkan sebagai produksi tanaman, dan diartikan suatu usaha pengelolaan tanaman Agonomi berasal dari : Agros = Tanaman dan Nomos = Pengelolaan. Jadi Agronomi adalah ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian di sebidang lahan dengan input minimal dan menghasilkan output yang maksimal. Menurut Sadjad (1976) Agronomi sebagai cabang ilmu-ilmu pertanian yang mencakup pengelolaan lapang produksi dan menghasilkan produksi maksimum. Sedangkan Setyati (1982) megemukakan Ilmu Agronomi merupakan ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian dan lingkungannya untuk memperoleh produksi maksimum. Produksi maksimum bermakna hasil produksi yang dihasilkan maksimal baik kuantitatif maupun kualitatif. Pengelolaan dilakukan pada berbagai tingkatan dari sederhana sampai maju, dan pada saatnya tingkat efektivitas dan efisiensi temyata dipengaruhi oleh tingkat budaya manusianya.
        Agronomi meliputi 3 aspek pokok, yaitu Aspek pemuliaan tanaman, Aspek fisiologi tanaman, Aspek ekologi tanaman. Pemuliaan Tanaman adalah ilmu pengetahuan untuk menciptakan tanaman yang lebih baik melalui perbaiakan genetik. Selain itu pemuliaan tanaman merupakan suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, hasil dari kegiatan pemuliaan tanaman yaitu berupa tanaman unggul.
        Ekologi diartikan interaksi antara organisme dengan lingkungannya serta  organisme dengan organisme yang lainnya di suatu tempat. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Fisiologi tumbuhan adalah  Ilmu yang mempelajari bekerjanya sistem kehidupan di dalam tubuh tumbuhan dan tanggapan terhadap pengaruh lingkungan sekitarnya yang menggabungkan aspek fisika, kimiawi, dan biologi di dalam tumbuhan. 
B. Pengertian pertanian
Negara kita terkenal dengan sebutan sebagai Negara Agraris bahkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pernah dijuluki dengan sebutan negara Macan Asia karena kekuatan Pertanian dengan Swasembada Pangannya. Namun apakah anda tahu pengertian dari Pertanian itu sendiri? Banyak pakar ilmuan terutama di bidang pertanian dalam mendefinisikan kata “Pertanian” itu sendiri baik secara arti sempit maupun dalam arti luas. Kali ini saya merangkum beberapa pengertian pertanian dari berbagai sumber yang mungkin anda bisa simpulkan sendiri apa itu “PERTANIAN”.
Salah satu sektor perekonomian adalah pertanian, yang merupakan penerapan akal dan karya manusia melalui pengendalian proses produksi biologis tumbuh-tumbuhan dan hewan, sehingga lebih bermanfaat bagi manusia. Tanaman dapat diibaratkan sebagai pabrik primer karena dengan memakai bahan dasar langsung dari a1am dapat menghasilkan bahan organik yang bermanfaat bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung.
Pertanian Dalam Arti Luas, semua yang mencakup kegiatan pertanian (tanaman pangan dan hortikultura), perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Saat ini, kegiatan pertanian dalam arti luas ditangani oleh tiga departemen, yaitu Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, dan Departemen Kelautan dan Perikanan. Adapun sebelum diputuskan ketiga departemen tersebut telah mengalami beberapa perubahan diantaranya:
1.    tahun 1980 = Departemen Pertanian
2.    tahun 1987 = Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan
3.    tahun 2000 = Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, serta Departemen kelautan dan Perikanan
4.    tahun 2002 = urusan perkebunan dikembalikan kedalam Departemen Pertanian, sehingga sejak saat itu kegiatan pertanian dalam arti luas ditangani oleh ketiga departemen (Pertanian, Kehutanan, Kelautan&Perikanan)
Pertanian Dalam Arti Sempit, suatu budidaya tanaman kedalam suatu lahan untuk mencukupi kebutuhan manusia. Secara sederhana, Mosher (1966) mengartikan pertanian sebagai turutnya campur tanagan manusia dalam perkembangan tanaman dan atau hewan, agar dapat lebih baik memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kehidupan keluarga dan atau masyarakatnya. Turutnya campur tangan manusia tersebut, dilakukan melalui mobilisasi sumberdaya (sendiri dan dari luar) dan pemanfaatanya kearah:
1.    Peningkatan produksi, melalui intensifikasi (sapta usaha tani) dan ekstensifikasi (perluasan area/skala usaha)
2.    Diversifikasi, yaitu keragaman usaha
3.    Efisiensi usaha, yaitu peningkatan pendapatan
4.    Perbaikan mutu, melalui standardisasi dan pengelompokan (sortasi), pengolahan, pembungkusan (packing) dan pemberian merk (branding)
5.    Pengolahan limbah, yaitu pemanfaatan limbah menjadi produk yang bermanfaat (biogas, kompos, dll)
6.    Perbaikan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup (Rehabilitasi dan konservasi
Dalam beberapa pengertian tersebut, pertanian memiliki makna ganda, baik sebagai profesi dan sebagai perubahan sosial dan kebudayaan. Dan tanaman dapat diibaratkan sebagai pabrik primer karena dengan memakai bahan dasar langsung dari alam dapat menghasilkan bahan organik yang bermanfaat bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung. Tanaman pertanian merupakan tanaman hasil pertanian yang meliputi hasil sawah, tegal dan ladang. Contoh tanaman pertanian adalah padi, sayur-sayuran, buah-buahan, gandum dan ubi. 
C. Perkembangan Pertanian di Indonesia
Dalam proses perkembangan tidak terlepas dari visi pertanian Indonesia. Visi pertanian Indonesia adalah menjadi pertanian tangguh dan modern berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan yang menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, penyediaan bahan baku industri dan kesejahteraan petani, serta berdaya saing global. Selain itu perkembangan pertanian tidak lepas dari sejarah perkembangan dari masyarakatnya zaman dulu hingga sekarang :
  1. Era pertanian dahulu: masih dengan sistem nomaden yaitu masyarakatnya dalam pemenuhan hidupnya sehari-hari masih menggunakan sistem berburu  dan semi nomaden yaitu masyarakatnya sudah mulai bercocok tanam dan juga masih menggunakan sistem berburu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
  2. Era pertanian modern : pertanian yang sudah mengalami kemajuan dan perkembangan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya berbagai terobosan-terobosan dan teknologi-teknologi baru.
Kemudian dalam proses perkembangan pertanian di Indonesia ada tiga pola pertanian yang saling berpengaruh, antaralain yaitu :
  1. Pertanian konvensional : Pertanian ini  mengandalkan input dari luar sistem pertanian, berupa energi, pupuk, pestisida untuk mendapatkan hasil pertanian yang produktif dan bermutu tinggi.
  2. Pertanian Konservasi  : pertanian yang mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian alam. Petani pada pertanian konservasi biasanya lebih mengutamakan kelestarian dan biasanya produktivitas rendah.
  3. Pertanian Teknologi Tinggi : pertanian ini memerlukan input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun energi. Pada pertanian teknologi tinggi ini dilakukan oleh pemodal besar karena biaya pertanian untuk cukup besar.
Di Indonesia terdapat berbagai macam sistem pertanian. Dan dalam setiap sistem memiliki tingkat efisiensi teknologi yang berbeda-beda yaitu :
  1. Sistem ladang : belum berkembang, pengelolaan sangat sedikit,  produktivitasnya tergantung lapisan humus awal.
  2. Sistem tegal pekarangan : di lahan kering , pengelolaannya masih rendah , terdapat tanaman campuran, baik tahunan maupun musiman
  3. Sistem sawah : teknik budidaya tinggi , sistem pengelolaan yang sudah baik (tanah, air dan tanaman), stabilitas kesuburannya lebih baik.
  4. Sistem perkebunan : khusus tanaman perkebunan yang menghasilkan bahan-bahan yang dapat diekspor, tingkat manajemen sudah maju. 
D. Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian merupakan salah satu hal yang dicapai ketika perkembangan pertanian terlaksana. Mau tidak mau dalam perkembangan pertanian akan menemui pembangunan ini karena berkembangnya pertanian dicapai melalui pembangunan yang berkelanjutan. Dalam pembangunan pertanian harus ditentukan arah yang jelas agar mudah dalam pencapaian tujuan pembangunan tersebut. Arah pembangunan pertanian yaitu:
1.      Peningkatan produksi pertanian
Arah ini harus dilakukan karena ini merupakan salah satu tujuan dari pembangunan pertanian yaitu meningkatkan produksi pertanian. Dengan peningkatan produksi  pertanian maka secara tidak langsung meningkatkan pembangunan pertanian tersebut. Maka harus dilakukan hal-hal khusus untuk meningkatkan produksi pertanian agar laju pembangunan semakin cepat.
2.      Peningkatan pendapatan usaha tani
Dalam pembangunan pertanian harus dicapai peningkatan pendapatan usaha tani, karena ketika pendapatan pertanian meningkat maka perkembangan pertanian akan semakin meningkat.
3.      Peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup petani
Saat kesejahteraan dan taraf hidup petani meningkat maka akan banyak yang berminat di pertanian dan perkembangan pertanian akan berjalan. Saat banyak yang berminat karena kesejahteraan dan taraf hidup petani terjamin maka akan banyak yang berpartisipasi dan pembagunan akan berlangsung.
4.      Penyediaan lapangan dan kesempatan kerja
Salah satu arah pembangunan yaitu menyediakan lapangan kerja. Pembangunan pertanian yang akan meluaskan lapangan pekerjaan juga akan membutuhkan pekerja sehingga secara langsung meniingkatkan penyediaan lapangan kerja.
5.      Perolehan pendapatan devisa
Salah satu arah pembangunan pertanian yaitu memperoleh devisa yaitu dengan mengekspor hasil pertanian. Dan ekspor dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu dan kualitas produksi pertanian.
Dalam pembangunan pertanian harus memiliki pula tujuan yang jelas dan harus mencapai kesejahteraan bagi petani dan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Hal tersebut dapat dicapai melalui:
1.      Agribisnis
2.      Pemanfaatan Iklim
3.      Pemanfaatan  Keanekaragaman Hayati
4.      Kesesuaian Lahan
5.      Ketersediaan Tenaga Kerja
6.      Pemanfaatan Peluang Pasar
Selain itu harus diperhatikan sumber daya pertanian yang dapat mempercepat pembangunan pertanian, SDM tersebut meliputi:
1.    Pemerintah Pusat
2.    Pakar Perguruan Tinggi
3.    Mahasiswa
4.    Penyuluh Pertanian
5.    Petani


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahwa perkembangan pertanian terdiri atas dua yaitu massyarakat dahulu dan masyarakat modern. Di  Indonesia terdapat tiga pola perkembangan pertanian yaitu Pertanian Teknologi Tinggi, Pertanian Konservasi dan Pertanian konvensional. Perkembangan pertanian di Indonesia sekarang ini masih belum maksimal dikarenakan SDM perkembangan pertanian di Indonesia masih kurang professional dan kurang adanya sinergi antar sumber daya manusia. Akan tetapi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan sarana prasarana dalam dan pendidikan di bidang pertanian agar menciptakan SDM yang lebih berkualitas.
B. Saran
Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan sarana prasarana dalam dan pendidikan di bidang pertanian agar menciptakan SDM yang lebih berkualitasagar perkembangan pertanian lebih maju dan pembangunan pertanian semakin pesat.












Daftar Pustaka

Anonim. 2008. Ilmu Lingkungan. ITB Press. Bandung
Fatchurrohim. M. 2002. Hubungan Pemupukan dengan Absorbsi Hara dan Produktivitas Kedelai. Seminar Lembaga Pusat Penelitian Pertanian.
Kobata and Uemuki.2004.Effect of high temperature at ripening stage on the reserve accumulation in seed in some rice cultivars. Plant Prod. Science. 4:160-168.
Weerakoon, W. M. W., Maruyama, A. and Ohba, K. 2008. Impact of humidity on        temperature induced grain sterility in rice (Oryza sativa L). J. Agron. and Crop Sci. 194:135-140.
Yudi, Abror. 2007. Teknik Budidaya Kedelai. Jurnal Agrivita 11(2) : 17-21. Balitbag. Bogor
Zakaria, S. 2005. Effect of temperature in ripening stage on the appearance of nucellar epidermis and reserves accumulation in endosperm of rice  (Oryza  sativa L.). Jurnal Agrista.



penyusun
 Abdul Latif (H0712001)
 Adi Aribowo (H0712002)
Adi Prabu M (H0712003)
Adib Fauzan R (H0712004
  
                        

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2013