Showing posts with label agroteknologi. Show all posts
Showing posts with label agroteknologi. Show all posts

Wednesday, December 18, 2013

MAKALAH AGROFUEL Ganggang Sebagai Bahan Bakar Alternatif Potensial yang Ramah Lingkungan

Oleh : Adib Fauzan H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
A. Pendahuluan
Biodiesel telah menarik perhatian sebagai bahan bakar yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan karena cadangan minyak dari bahan baku fosil berkurang serta konsekuensi lingkungan yang rusak akibat gas buang dari bahan bakar solar. Janaun (2010) menyatakan biodiesel (lemak ester alkil asam) adalah diesel alternatif yang berasal dari reaksi minyak nabati atau lipid dan alkohol dengan atau tanpa kehadiran katalis. Konversi kimia dari minyak ester lemak menjadi biodisel disebut transesterifikasi.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang tidak beracun dan biodegradable yang diperoleh dari sumber terbarukan (Hossain 2008). Penelitian terbaru telah terbukti bahwa produksi minyak dari ganggang menunjukan keunggulan dibanding dengan tanaman terestrial seperti kelapa sawit, kedelai atau jatropha serta memiliki potensi besar untuk menggantikan bahan bakar fosil. Kecepatan pertumbuhan ganggang jauh lebih cepat daripada pertumbuhan tanaman terrestrial. Produksi per unit minyak dari ganggang setahun diperkirakan  20.000 sampai 80.000 L per hektar. Angka ini 7-31 kali lebih besar dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit (Demirbas 2011).
Dalam dunia tumbuhan ganggang termasuk kedalam dunia tallopyta (tumbuhan talus), karena belum mempunyai akar, batang dan daun secara jelas.   Ganggang merupakan organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Ganggang bahkan dapat dianggap tidak memiliki “organ” seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun, dan sebagainya). serupa benang atau lembaran. Tumbuhan ganggang merupakan tumbuhan tahun yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah.
Tubuh ganggang menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar, tetapi sernua selnya selalau jelas mempunyal inti dan plastida dan dalam plastidnya terdapat zat-zat warna derivat kiorofil yaltu kiorofil a, b atau kedua-duanya. Selain derivat-derivat klorofil terdapat pula zat-zat warna lain yang justru kadang-kadang lebih inenonjol dan menyebabkan ketompok-kelompok ganggang tertentu diberi nama menurut warna tadi. Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin (berwama biru), fikosantin (berwarna pirang), fikoeritrin (berwarna merah merah). Disamping itu juga diternukan zat-zat warna santofli dan karoten.
  Penggunaan ganggang sebagai tanaman bahan bakar alternatif memiliki potensi lebih besar karena mudah beradaptasi dengan baik serta kemungkinan tumbuh baik di perairan tawar maupun laut. Kondisi tersebut memungkinkan produksi minyak dari bahan baku ganggang dapat menghindari penggunaan lahan. Selain itu, dua pertiga dari permukaan bumi ditutupi dengan air, sehingga ganggang akan benar-benar menjadi pilihan terbarukan yang memiliki potensi besar untuk dunia dalam mencukupi kebutuhan energy. Schenk et al (2008) menyatakan bahwa biofuel dari bahan baku ganggang tampaknya menjadi satu-satunya sumber terbarukan saat ini yang dapat memenuhi global permintaan untuk bahan bakar transportasi. Hossain et al (2008) juga memperkuat pendapat bahwa ganggang telah muncul sebagai salah satu sumber yang paling menjanjikan untuk produksi biodiesel.
B. Potensi Ganggang
Kebutuhan biodiesel yang besar otomatis akan membutuhkan bahan baku yang besar pula. Kriteria bahan baku yang dibutuhkan adalah mudah tumbuh, mudah dikembangkan secara luas, dan mengandung minyak nabati yang cukup besar. Berikut adalah pemaparan kelebihan ganggang sebagai bahan baku biodiesel.
1. Ganggang mengandung minyak nabati hingga 75%
Salah satu alasan utama mengapa ganggang digunakan menjadi biodiesel adalah kandungan minyak nabati pada ganggang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan bahan baku biodiesel lain seperti kacang kedelai, kapas, jatropha dan lain-lain. Dengan lebih tingginya kandungan minyak nabati pada ganggang dibanding dengan tumbuhan lain maka kebutuhan lahan untuk produksi biodiesel dari ganggang juga lebih sedikit. Berikut adalah gambaran kebutuhan lahan untuk produksi biodiesel.
2. Ganggang merupakan jenis tumbuhan yang paling cepat tumbuh di alam
Jagung atau tanaman pertanian lain membutuhkan waktu hingga setahun untuk tumbuh, sementara ganggang dapat tumbuh dalam beberapa hari. Waktu panen ganggang yang cepat dapat menghasilkan yang lebih efisien dengan jangka waktu yang lebih singkat dalam area yang lebih kecil jika dibandingkan dengan tumbuhan lain.
3. Ganggang mengkonsumsi karbon dioksida ketika tumbuh, sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan
Ketergantungan akan BBM mengakibatkan peningkatan kandungan CO2 di atmosfer. Dengan memanfaatkan ganggang yang mengkonsumsi CO2 untuk menghasilkan minyak, biodiesel dapat diproduksi secara efisien sementara mengurangi penambahan CO2 ke atmosfer.
4.  Sumber pertumbuhan ganggang mudah diperoleh
Agar dapat tumbuh dengan baik ganggang hanya membutuhkan beberapa sumber dasar yaitu: CO2, air, cahaya matahari dan nutrien. Cahaya matahari dapat diperoleh hampir sepanjang tahun, ketika malam maka dapat digunakan lampu untuk menggantikan cahaya matahari. Karbon dioksida dapat diperoleh dalam konsentrasi tinggi dari power plant dan proses industri sebagai gas buangan. Ganggang dapat tumbuh di kebanyakan sumber air dengan variasi tingkat pH. Alasan ini menjadi salah satu kelebihan ganggang karena ganggang tidak perlu bersaing dengan manusia atau tumbuhan pertanian lain dalam mengkonsumsi air bersih.
C. Pengolahan Ganggang
Pengolahan ganggang untuk biodiesel dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu penumbuhan, pemanenan dan pengambilan minyak.
1. Penanaman (Algae Cultivation)
a. Pembukaan Lahan Budidaya Terbuka(Open Raceways)
Banyak pilihan untuk pertanian ganggang skala besar. Kebutuhan ganggang akan sinar matahari, nutrisi, dan karbon dioksida untuk berkembang serta bereproduksi para petani ganggang subsisten menggunakan lahan terbuka besar dengan medium cair untuk tumbuh ganggang mereka. Kebanyakan lahan terbuka dirancang dengan arus yang terus-menerus sehingga semua organisme menerima sinar matahari yang cukup. Karbon dioksida juga dipompa ke dalam air untuk menjaga ganggang hidup, dan nutrisi sering diisi ulang untuk mendukung pertumbuhan maksimum. Keuntungan untuk lahan terbuka ini murah, dapat mendukung populasi besar ganggang, dan bisa menggunakan air limbah dan emisi CO2 dari pabrik-pabrik industri lokal. Namun, lahan terbuka rentan terhadap kontaminasi dan sulit untuk menemukan cara yang efisien untuk memanen ganggang dari lahan terbuka besar ini karena luasnya area dan aliran air konstan.
          b. Bioreaktor
                        Metode lain untuk budidaya ganggang adalah foto – bioreaktor. Foto–bioreaktor Ini dirancang dengan tinggi, transparan , wadah tertutup yang memungkinkan petani ganggang untuk mengontrol semua aspek lingkungan seperti tingkat suhu , cahaya, karbon dioksida dan nutrisi , serta menghindari kontaminasi . Bioreaktor dapat dibangun dalam menggunakan cahaya buatan atau  menggunakan sinar matahari. Bioreaktor ini juga dapat dipasangkan dengan tanaman industri lokal untuk menggunakan sumber-sumber limbah. Metode budidaya memungkinkan untuk menghasilkan ganggang dalam jumlah yang tinggi dan dapat dipanen setiap hari , tetapi pembuatan bioreactor ini sangat mahal, dan memerlukan desain yang kompleks untuk mempertahankan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan ganggang. Kadar oksigen,  karbon dioksida yang berlebih serta berlimpahnya ganggang dapat terjadi dalam sistem ini jika tidak disaring secara efisien  yang berakibat membunuh populasi ganggang. Perubahan pH dan kurangnya nutrisi juga dapat merusak siklus pertumbuhan ganggang sehingga bioreaktor memiliki sistem pemantauan khusus untuk semua faktor-faktor lingkungan
          c. Fermentasi(Fermentation)
                        Fermentasi tumbuh ganggang menggunakan tong sinar matahari independen dengan memberi mereka makan gula. Metode ini menawarkan kontrol yang paling maksimal dalam mengatur pertumbuhan populasi ganggang, danmemungkinkan budidaya ganggang dibelahan bumi manapun. Lingkungan yang sesuai seperti suhu dan tekanan dapat dipelihara dengan mudah. Dalam metode ini, biomassa ganggang menghasilkan etanol. Namun metode fermentasi lebih mahal daripada metode budidaya lainnya. Terlebih lagi metode ini bukan efisiensi penggunaan ganggang karena etanol secara komersial digunakan sebagai aditif bensin untuk transportasi umum meskipun beberapa mobil balap dapat berjalan pada etanol murni. Oleh karena itu, untuk sebagian besar perusahaan telah dihapus gagasan fermentasi, tetapi beberapa perusahaan seperti Solazyme, masih menginvestasikan energi dan sumber daya ke dalam metode ini. Spesies ganggang lain juga telah menunjukkan tingkat pertumbuhan meningkat bila ditanam dalam medium yang mengandung sumber karbon eksogen. Spesies seperti Botryococcus brauni, Chlorella sp telah terbukti peningkatan produksi hidrokarbon di media yang kaya karbon
     2. Pemanenan (Algae Biomass Harvest)
          a. Penyaringan (Filtration)
                        Ganggang harus ditumbuhkan dalam air, untuk itu ada beberapa metode pemisahan yang efisien dalam menghilangkan sel-sel ganggang dari media cair. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu teknik adalah filtrasi dimana media cair disaring dengan kekuatan vakum melalui membran berpori sambil mengumpulkan biomassa ganggang. Filtrasi sangat efisien dalam berkonsentrasi mikroganggang kepadatan rendah, tetapi mahal dan memakan waktu (Jacquot 2009). Seluruh volume medium cair harus melewati filter. Proses ini juga sangat membosankan karena penyaringan harus dimonitor dan biomassa ganggang harus dikerok pada interval untuk menghindari penyumbatan filter .
          b. Sentrifugasi (Centrifugation)
                   Sentrifugasi adalah pemisahan ganggang dari medium cair menggunakan mesin sentrifugasi. Bagi pengusaha ganggang skala kecil penggunaan alat ini lebih mahal dibandingkan dengan yang lain. Namun, untuk produksi komersial, penggunaan mesin ini  layak karena proses ini dapat memisahkan biomassa ganggang dari volume penuh medium cair dalam satu langkah, sehingga meningkatkan efisiensi panen. Namun demikian, jumlah energi yang dibutuhkan untuk daya seperti sentrifugasi kolosal sangat besar, selain itu sel-sel ganggang sangat rapuh, gaya yang diterapkan untuk ganggang selama sentrifugasi harus tepat.
c. Flokulasi (Flocculation)
         Metode flokulasi merupakan kemajuan teknologi yang dapat digunakan dalam kombinasi dengan filtrasi untuk meningkatkan efisiensi. Flokulasi adalah sarana sel-sel ganggang berkumpul dan membentuk massa dengan penambahan bahan kimia atau zat organik. Pertimbangan hati-hati harus dilakukan ketika memilih substansi untuk menginduksi flokulasi karena beberapa zat dapat mencemari produk akhir. Studi yang dilakukan oleh Lee et al (2010) menunjukkan bahwa penambahan zat karbon organik, seperti asetat, glukosa, atau gliserin, menginduksi flokulasi signifikan dan meningkatkan efisiensi pemulihan biomassa ganggang.
3. Pengambilan Minyak (Oil Extraction)
     a. Transesterifikasi (Transesterification)
                   Meskipun teknik transesterifikasi telah digunakan selama lebih dari satu abad, namun baru-baru ini digunakan sebagai metode ekstraksi untuk memperoleh bahan bakar dari minyak ganggang. Transersterifikasi merupakan reaksi umum untuk produksi biodiesel. Transesterifikasi adalah reaksi antara ester (TAG) dan alkohol (metanol) untuk membentuk ester yang berbeda (metil ester) dan alkohol (gliserol) dengan adanya katalis (Dewitt 2010). Di hadapan katalis, alkohol terdeprotonasi yang membentuk nukleofil kuat, yang memungkinkan untuk bereaksi dengan trigliserida untuk membentuk tiga metil ester baru (BBM) dan gliserol (sampingan). Gliserol akan berada di bawah dengan biodiesel atau bahan bakar di atas. Glcyerol dapat dilepas dan digunakan untuk berbagai produk yang tersisa dengan biodiesel untuk bahan bakar (Willey et al 2009)
     b. Pirolisis (Pyrolisis)
                    Meskipun belum ditentukan apakah proses pirolisis dapat digunakan untuk produksi minyak ganggang menguntungkan secara ekonomi, namun proses ini telah diteliti selama beberapa tahun dan sedang dalam tahap pengembangan skala besar komersial dengan beberapa fasilitas percontohan. Pirolisis adalah alat teknologi yang menjanjikan karena berhubungan dengan memecah ikatan kimia dalam bahan organik untuk membuat bahan bakar cair. Sebagian besar bahan organik memiliki ikatan kimia yang dapat dipecah dan memproduksi produk-produk energi tinggi serta memiliki potensi besar untuk jumlah massa bahan bakar yang akan dibuat. Proses pirolisis diawali dengan biomassa, yang pada umumnya bahan baku, ditempatkan dalam ruang dan dipanaskan tanpa oksigen. Dengan tidak adanya oksigen, panas digunakan untuk memecah ikatan kimia dengan menguap banyak konstituen.
     c. Long-chain Hydrocarbons
                   Beberapa spesies ganggang menghasilkan hidrokarbon daripada lipid dan TAG. Perbedaan dalam bahan baku dapat mengakibatkan perbedaan dalam konversi produk, dan karakteristik produk. Hidrokarbon rantai panjang yang ditemukan di ruang intrasel dari ganggang Botryococcus braunii (juga dikenal sebagai botyrocennes) sangat mirip dengan komposisi minyak mentah. Hidrokarbon diekstrak sehingga dapat dikonversi ke bahan bakar dengan hydrocracking, telah dilakukan di kilang minyak. Hal ini menguntungkan karena, pertama, teknologi dan infrastruktur sudah tersedia di banyak bagian dunia. Ganggang dapat tumbuh dan hidrokarbon diekstrak, kemudian dijual ke kilang sebagai produk dasar yang sama seperti minyak mentah. Hal ini dapat berkontribusi lebih dari sekedar bahan bakar, tetapi juga produk sampingan yang berguna lainnya penyulingan. Minyak mentah disuling untuk banyak produk konsumen sehari-hari. Telah terbukti bahwa hidrokarbon di Botryococcus braunii dapat dikonversi oleh hidrocracking katalitik untuk 67% bensin minyak bumi, 15% bahan bakar jet, dan 15% solar (Tran et al 2010)
D. Kesimpulan
               Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar terdiri dari wilayah perairan. Krisis sumber energi seharusnya dapat diatasi oleh negara ini dengan mengembangkan biodiesel dari ganggang. Pembangunan perusahaan yang bergerak dibidang biodiesel dari ganggang harus dikembangkan di negara ini untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan sumber energi. Sinergi antara pemerintah, pengusaha dan peneliti harus dibangun untuk mengembangkan biodiesel dari ganggang.


DAFTAR PUSTAKA

Demirbas, A dan  M.F. Demirbas. 2011. Importance of algae oil as a source of biodiesel. Energy Convert and Manage 52: 163-170.
Dewitt. 2010. Dewitt and Company Inc. http://www.methanol.org Diakses 7 september 2013
Hossain, A. Salleh, Boyce, P. Chowdhury dan M. Naqiuddin. 2008. Biodiesel fuel production from algae as renewable energy. Journal of Biochem. Biotech., 4 (3): 250-254.
Jacquot, Jeremy.2010.  5 Companies Making Fuel from Algae Now. Popular Mechanics. http://www.popularmechanics.com Diakses 7 September 2013
Janaun, J. and E. Naoko. 2010. Perspectives on biodiesel as a sustainable fuel. Renew Sustain Energy  (14) 1 : 1312-1320.
Lee, Andrew K. Lewis, David M. Ashman, Peter J. 2009. Microbial flocculation: a potentially low-cost harvesting technique for marine microalgae for the production of biodiesel.  J Appl Phycol. 21: 559-567.
Schenk, P.M., S.R. Thomas-Hall, E. Stephens, U.C. Marx, J.H. Mussgnug, C. Posten. O. Kruse dan B. Hankamer. 2008. Second generation biofuels: High-Efficiency microalgae for biodiesel production. Bioenergy Res (1): 20-43
Tickell, J. 2000. From the Fryer to the Fuel Tank third ed. LA: Tickell Energy Consultants Covington
Tran, N.H., Bartlett, J.R., Kannangara, Milev, A.S., Volk, H., Wilson, M.A. 2010. Catalytic upgrading of biorefinery oil from micro-algae.J Fuel tech 89 : 265–274




Tuesday, April 30, 2013

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN Perkembangan Pertanian di Indonesia

Oleh : Adib Fauzan Dkk. H0712004 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertanian adalah merupakan salah satu usaha yang bisa menunjang kehidupan masyarakat dalam kehidupannya yang saat ini memang telah banyak digeluti oleh masyarakat kecil maupun masyarakat tingkat sedang. Namun, sebagian besar masyarakat kecil masih terhambat oleh kurangnya pengembangan teknologi yang memang sangat dibutuhkan sekarang sebagai pembantu dalam mengelolah lahan petanian maupun hasil-hasil pertanian. Keterbatasan inilah yang sekarang menjadi bahan untuk dipecahkan bersama-sama guna membantu para petani dalam mengembangkan usahanya dalam bertani.
Kemudian selain dari pada itu, pengembangan teknologi juga dibutuhkan sebagai pembaruan dari usaha tani tradisional guna lebih meningkatkan lagi produktivitas hasil pertanian. Usaha yang telah dilakukan dalam mengembangkan usaha tani juga memang penting karena pengembangan teknologi dalam bidang usaha pertanian ditujukan agar dapat membantu para petani dalam mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi sebagaimana yang diharapkan oleh semua petani.
Pengembangan teknologi dalam bidang pertanian tentunya harus dilakukan dengan memperhatikan sistem pertanian yang digunakan yang didalamnya mencakup berbagai macam cara dalam mengembangkan hasil pertaian selain daripada teknologi. Pengetahuan yang seperti ini seharusnya menjadi modal utama dalam mengembangkan usaha tani apabila kita ingin mendapatkan keuntugan yang besar. Hal-hal yang seperti inilah yang seharusnya petani perhatikan terlebih dahulu ketika ingin memulai usaha tani agar tidak mendatangkan kerugian. Selain itu, peran pemerintah juga dibutuhkan guna memberi pengetahuan berupa sosialisasi ketika ada pengembangan metode pertanian maupun pengembangan alat-alat pertaian yang dapat membantu megurangi beban para petani.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah perkembangan teknologi pertanian yang ada di Indonesia?
2. Bagaimanakah perkembangan sistem pertanian di Indonesia?
3. Bagaimanakah perkembangan pembangunan pertanian di Indonesia?




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agronomi dan Ruang Lingkup Agronomi
       Agronomi dapat diistilahkan sebagai produksi tanaman, dan diartikan suatu usaha pengelolaan tanaman Agonomi berasal dari : Agros = Tanaman dan Nomos = Pengelolaan. Jadi Agronomi adalah ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian di sebidang lahan dengan input minimal dan menghasilkan output yang maksimal. Menurut Sadjad (1976) Agronomi sebagai cabang ilmu-ilmu pertanian yang mencakup pengelolaan lapang produksi dan menghasilkan produksi maksimum. Sedangkan Setyati (1982) megemukakan Ilmu Agronomi merupakan ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian dan lingkungannya untuk memperoleh produksi maksimum. Produksi maksimum bermakna hasil produksi yang dihasilkan maksimal baik kuantitatif maupun kualitatif. Pengelolaan dilakukan pada berbagai tingkatan dari sederhana sampai maju, dan pada saatnya tingkat efektivitas dan efisiensi temyata dipengaruhi oleh tingkat budaya manusianya.
        Agronomi meliputi 3 aspek pokok, yaitu Aspek pemuliaan tanaman, Aspek fisiologi tanaman, Aspek ekologi tanaman. Pemuliaan Tanaman adalah ilmu pengetahuan untuk menciptakan tanaman yang lebih baik melalui perbaiakan genetik. Selain itu pemuliaan tanaman merupakan suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, hasil dari kegiatan pemuliaan tanaman yaitu berupa tanaman unggul.
        Ekologi diartikan interaksi antara organisme dengan lingkungannya serta  organisme dengan organisme yang lainnya di suatu tempat. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Fisiologi tumbuhan adalah  Ilmu yang mempelajari bekerjanya sistem kehidupan di dalam tubuh tumbuhan dan tanggapan terhadap pengaruh lingkungan sekitarnya yang menggabungkan aspek fisika, kimiawi, dan biologi di dalam tumbuhan. 
B. Pengertian pertanian
Negara kita terkenal dengan sebutan sebagai Negara Agraris bahkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pernah dijuluki dengan sebutan negara Macan Asia karena kekuatan Pertanian dengan Swasembada Pangannya. Namun apakah anda tahu pengertian dari Pertanian itu sendiri? Banyak pakar ilmuan terutama di bidang pertanian dalam mendefinisikan kata “Pertanian” itu sendiri baik secara arti sempit maupun dalam arti luas. Kali ini saya merangkum beberapa pengertian pertanian dari berbagai sumber yang mungkin anda bisa simpulkan sendiri apa itu “PERTANIAN”.
Salah satu sektor perekonomian adalah pertanian, yang merupakan penerapan akal dan karya manusia melalui pengendalian proses produksi biologis tumbuh-tumbuhan dan hewan, sehingga lebih bermanfaat bagi manusia. Tanaman dapat diibaratkan sebagai pabrik primer karena dengan memakai bahan dasar langsung dari a1am dapat menghasilkan bahan organik yang bermanfaat bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung.
Pertanian Dalam Arti Luas, semua yang mencakup kegiatan pertanian (tanaman pangan dan hortikultura), perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Saat ini, kegiatan pertanian dalam arti luas ditangani oleh tiga departemen, yaitu Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, dan Departemen Kelautan dan Perikanan. Adapun sebelum diputuskan ketiga departemen tersebut telah mengalami beberapa perubahan diantaranya:
1.    tahun 1980 = Departemen Pertanian
2.    tahun 1987 = Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan
3.    tahun 2000 = Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, serta Departemen kelautan dan Perikanan
4.    tahun 2002 = urusan perkebunan dikembalikan kedalam Departemen Pertanian, sehingga sejak saat itu kegiatan pertanian dalam arti luas ditangani oleh ketiga departemen (Pertanian, Kehutanan, Kelautan&Perikanan)
Pertanian Dalam Arti Sempit, suatu budidaya tanaman kedalam suatu lahan untuk mencukupi kebutuhan manusia. Secara sederhana, Mosher (1966) mengartikan pertanian sebagai turutnya campur tanagan manusia dalam perkembangan tanaman dan atau hewan, agar dapat lebih baik memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kehidupan keluarga dan atau masyarakatnya. Turutnya campur tangan manusia tersebut, dilakukan melalui mobilisasi sumberdaya (sendiri dan dari luar) dan pemanfaatanya kearah:
1.    Peningkatan produksi, melalui intensifikasi (sapta usaha tani) dan ekstensifikasi (perluasan area/skala usaha)
2.    Diversifikasi, yaitu keragaman usaha
3.    Efisiensi usaha, yaitu peningkatan pendapatan
4.    Perbaikan mutu, melalui standardisasi dan pengelompokan (sortasi), pengolahan, pembungkusan (packing) dan pemberian merk (branding)
5.    Pengolahan limbah, yaitu pemanfaatan limbah menjadi produk yang bermanfaat (biogas, kompos, dll)
6.    Perbaikan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup (Rehabilitasi dan konservasi
Dalam beberapa pengertian tersebut, pertanian memiliki makna ganda, baik sebagai profesi dan sebagai perubahan sosial dan kebudayaan. Dan tanaman dapat diibaratkan sebagai pabrik primer karena dengan memakai bahan dasar langsung dari alam dapat menghasilkan bahan organik yang bermanfaat bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung. Tanaman pertanian merupakan tanaman hasil pertanian yang meliputi hasil sawah, tegal dan ladang. Contoh tanaman pertanian adalah padi, sayur-sayuran, buah-buahan, gandum dan ubi. 
C. Perkembangan Pertanian di Indonesia
Dalam proses perkembangan tidak terlepas dari visi pertanian Indonesia. Visi pertanian Indonesia adalah menjadi pertanian tangguh dan modern berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan yang menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, penyediaan bahan baku industri dan kesejahteraan petani, serta berdaya saing global. Selain itu perkembangan pertanian tidak lepas dari sejarah perkembangan dari masyarakatnya zaman dulu hingga sekarang :
  1. Era pertanian dahulu: masih dengan sistem nomaden yaitu masyarakatnya dalam pemenuhan hidupnya sehari-hari masih menggunakan sistem berburu  dan semi nomaden yaitu masyarakatnya sudah mulai bercocok tanam dan juga masih menggunakan sistem berburu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
  2. Era pertanian modern : pertanian yang sudah mengalami kemajuan dan perkembangan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya berbagai terobosan-terobosan dan teknologi-teknologi baru.
Kemudian dalam proses perkembangan pertanian di Indonesia ada tiga pola pertanian yang saling berpengaruh, antaralain yaitu :
  1. Pertanian konvensional : Pertanian ini  mengandalkan input dari luar sistem pertanian, berupa energi, pupuk, pestisida untuk mendapatkan hasil pertanian yang produktif dan bermutu tinggi.
  2. Pertanian Konservasi  : pertanian yang mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian alam. Petani pada pertanian konservasi biasanya lebih mengutamakan kelestarian dan biasanya produktivitas rendah.
  3. Pertanian Teknologi Tinggi : pertanian ini memerlukan input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun energi. Pada pertanian teknologi tinggi ini dilakukan oleh pemodal besar karena biaya pertanian untuk cukup besar.
Di Indonesia terdapat berbagai macam sistem pertanian. Dan dalam setiap sistem memiliki tingkat efisiensi teknologi yang berbeda-beda yaitu :
  1. Sistem ladang : belum berkembang, pengelolaan sangat sedikit,  produktivitasnya tergantung lapisan humus awal.
  2. Sistem tegal pekarangan : di lahan kering , pengelolaannya masih rendah , terdapat tanaman campuran, baik tahunan maupun musiman
  3. Sistem sawah : teknik budidaya tinggi , sistem pengelolaan yang sudah baik (tanah, air dan tanaman), stabilitas kesuburannya lebih baik.
  4. Sistem perkebunan : khusus tanaman perkebunan yang menghasilkan bahan-bahan yang dapat diekspor, tingkat manajemen sudah maju. 
D. Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian merupakan salah satu hal yang dicapai ketika perkembangan pertanian terlaksana. Mau tidak mau dalam perkembangan pertanian akan menemui pembangunan ini karena berkembangnya pertanian dicapai melalui pembangunan yang berkelanjutan. Dalam pembangunan pertanian harus ditentukan arah yang jelas agar mudah dalam pencapaian tujuan pembangunan tersebut. Arah pembangunan pertanian yaitu:
1.      Peningkatan produksi pertanian
Arah ini harus dilakukan karena ini merupakan salah satu tujuan dari pembangunan pertanian yaitu meningkatkan produksi pertanian. Dengan peningkatan produksi  pertanian maka secara tidak langsung meningkatkan pembangunan pertanian tersebut. Maka harus dilakukan hal-hal khusus untuk meningkatkan produksi pertanian agar laju pembangunan semakin cepat.
2.      Peningkatan pendapatan usaha tani
Dalam pembangunan pertanian harus dicapai peningkatan pendapatan usaha tani, karena ketika pendapatan pertanian meningkat maka perkembangan pertanian akan semakin meningkat.
3.      Peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup petani
Saat kesejahteraan dan taraf hidup petani meningkat maka akan banyak yang berminat di pertanian dan perkembangan pertanian akan berjalan. Saat banyak yang berminat karena kesejahteraan dan taraf hidup petani terjamin maka akan banyak yang berpartisipasi dan pembagunan akan berlangsung.
4.      Penyediaan lapangan dan kesempatan kerja
Salah satu arah pembangunan yaitu menyediakan lapangan kerja. Pembangunan pertanian yang akan meluaskan lapangan pekerjaan juga akan membutuhkan pekerja sehingga secara langsung meniingkatkan penyediaan lapangan kerja.
5.      Perolehan pendapatan devisa
Salah satu arah pembangunan pertanian yaitu memperoleh devisa yaitu dengan mengekspor hasil pertanian. Dan ekspor dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu dan kualitas produksi pertanian.
Dalam pembangunan pertanian harus memiliki pula tujuan yang jelas dan harus mencapai kesejahteraan bagi petani dan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Hal tersebut dapat dicapai melalui:
1.      Agribisnis
2.      Pemanfaatan Iklim
3.      Pemanfaatan  Keanekaragaman Hayati
4.      Kesesuaian Lahan
5.      Ketersediaan Tenaga Kerja
6.      Pemanfaatan Peluang Pasar
Selain itu harus diperhatikan sumber daya pertanian yang dapat mempercepat pembangunan pertanian, SDM tersebut meliputi:
1.    Pemerintah Pusat
2.    Pakar Perguruan Tinggi
3.    Mahasiswa
4.    Penyuluh Pertanian
5.    Petani


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahwa perkembangan pertanian terdiri atas dua yaitu massyarakat dahulu dan masyarakat modern. Di  Indonesia terdapat tiga pola perkembangan pertanian yaitu Pertanian Teknologi Tinggi, Pertanian Konservasi dan Pertanian konvensional. Perkembangan pertanian di Indonesia sekarang ini masih belum maksimal dikarenakan SDM perkembangan pertanian di Indonesia masih kurang professional dan kurang adanya sinergi antar sumber daya manusia. Akan tetapi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan sarana prasarana dalam dan pendidikan di bidang pertanian agar menciptakan SDM yang lebih berkualitas.
B. Saran
Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan sarana prasarana dalam dan pendidikan di bidang pertanian agar menciptakan SDM yang lebih berkualitasagar perkembangan pertanian lebih maju dan pembangunan pertanian semakin pesat.












Daftar Pustaka

Anonim. 2008. Ilmu Lingkungan. ITB Press. Bandung
Fatchurrohim. M. 2002. Hubungan Pemupukan dengan Absorbsi Hara dan Produktivitas Kedelai. Seminar Lembaga Pusat Penelitian Pertanian.
Kobata and Uemuki.2004.Effect of high temperature at ripening stage on the reserve accumulation in seed in some rice cultivars. Plant Prod. Science. 4:160-168.
Weerakoon, W. M. W., Maruyama, A. and Ohba, K. 2008. Impact of humidity on        temperature induced grain sterility in rice (Oryza sativa L). J. Agron. and Crop Sci. 194:135-140.
Yudi, Abror. 2007. Teknik Budidaya Kedelai. Jurnal Agrivita 11(2) : 17-21. Balitbag. Bogor
Zakaria, S. 2005. Effect of temperature in ripening stage on the appearance of nucellar epidermis and reserves accumulation in endosperm of rice  (Oryza  sativa L.). Jurnal Agrista.



penyusun
 Abdul Latif (H0712001)
 Adi Aribowo (H0712002)
Adi Prabu M (H0712003)
Adib Fauzan R (H0712004
  
                        

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2013 

Tuesday, April 23, 2013

Program Studi S1 Agroteknologi


Visi dan Misi


VISI
Menjadi penyelenggara pendidikan dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang budidaya tanaman yang mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dalam mewujudkan pertanian terpadu berkelanjutan dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional

MISI
  1. Menyelenggarakan pendidikan di bidang budidaya tanaman untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dalam mewujudkan pertanian terpadu berkelanjutan
  2. Menyelenggarakan penelitian yang mengarah ke pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk penyelesaian masalah di bidang budidaya tanaman, khususnya tanaman unggulan lokal
  3. Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat untuk penerapan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  4. Meningkatkan dan mengembangkan kerjasama di tingkat nasional maupun internasional.

TUJUAN
Menghasilkan lulusan yang:
  1. Kompeten dalam bidang budidaya tanaman yang mencakup aspek sumberdaya lahan, agronomi, dan perlindungan tanaman berdasarkan kearifan lokal.
  2. Mampu berinovasi dalam menerapkan IPTEK.
  3. Mempunyai jiwa kepemimpinan dan kemampuan manajerial, serta adaptif terhadap lingkungan.
  4. Mampu berkomunikasi dan bekerjasama.
  5. Menjunjung etika profesi.
  6. Menghasilkan produk penelitian yang memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang budidaya tanaman, khususnya tanaman unggulan lokal, serta berkontribusi untuk penyelesaian masalah pertanian.
  7. Mendiseminasikan dan mengimplementasikan temuan IPTEK kepada masyarakat.
  8.  Menghasilkan jejaring (networking) kerjasama untuk meningkatkan mutu institusi dan lulusan.
Website Resmi Prodi Agroteknologi UNS : http://agroteknologi.fp.uns.ac.id